"Kualitas aset stabil di sebagian besar sistem perbankan Asia Pasifik. Siklus kredit negatif juga mulai membaik dengan pertumbuhan ekonomi yang moderat ditengah relatif stabilnya harga komoditas," ujar Stephen Long, Direktur Pelaksana Moody's, mengutip keterangan resmi, Selasa (4/7).
Prospek yang diberikan Moody's tertuang dalam laporan tahunan bertajuk Banks Asia Pacific, Stabilizing Credit Cycle, yang diluncurkan kemarin. Prospek mengindikasikan kondisi fundamental kredit perbankan yang akan memengaruhi kelayakan kredit 12-18 bulan ke depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut ia menyebut, Moody's meyakini bahwa kredit bermasalah terkait komoditas telah menyentuh puncaknya. Sehingga, harapan lembaga pemeringkat terhadap harga energi dan komoditas yang stabil pada tahun ini akan mendukung kualitas aset bank segmen ini.
Pendanaan dan likuiditas juga dipercaya membaik dan mampu mendukung pertumbuhan kredit didorong aliran modal asing yang kembali ke negara-negara berkembang di Asia. Meskipun, ketidakpastian pasar karena suku bunga Amerika Serikat (AS) dan penguatan dolar terus membayangi.
Namun demikian, Moody's memprediksi, masih terdapat risiko jangka panjang yang meningkat di beberapa bank di Asia Pasifik. Ambil contoh, harga properti melesat meningkatkan risiko kredit bank.
"Karena, regulator tentu tidak menginginkan langkah-langkah penyelamatan lebih luas. Lagipula, dukungan publik lebih disukai untuk mencegah tekanan dalam sistem perbankan," imbuh Long.
Adapun, bank-bank dari negara maju di Asia Pasifik yang diperhatikan Moody's, yakni Australia, Hong Kong, Singapura, Jepang, Selandia Baru, Korea dan Taiwan. Sementara, bank-bank dari negara berkembang di kawasan meliputi China, Bangladesh, India, Sri Lanka, Indonesia, Malaysia, Mongolia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.