Pasalnya, perbaikan ekonomi global yang disertai dengan pemulihan harga komoditas, termasuk yang terjadi pada minyak kelapa sawit (Crude Palm Oils/CPO), memberikan potensi ekspor yang baik pada Indonesia dan tentunya ekspor mampu berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.
"Banyak bantuan dari sawit, pertumbuhan ekspornya bagus karena daya saingnya bagus dan permintaan pasar luar negeri, seperti India tinggi," ucap Faisal saat dihubungi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya, di luar sawit, Faisal melihat industri perlu berhati-hati, apalagi terhadap komoditas pertanian dan perkebunan yang pangsa pasarnya lebih banyak menyasar dalam negeri karena ada sentimen negatif dari masih lesunya daya beli masyarakat.
(CNN Indonesia/Fajrian) |
"Pemerintah akan ketatkan belanja, itu sedikit banyak pengaruhi belanja modal, pengaruhi infrastruktur dan konstruksi. Asal belanja untuk infrastruktur tidak tertahan, mungkin masih bisa picu pertumbuhan sektor ini," terang Faisal.
Namun, solusinya, pemerintah diminta giat menggenjot investasi agar turut mendanai pembangunan infrastruktur Tanah Air, sehingga sektor konstruksi kian subur jelang akhir tahun. Bahkan, ia menyebutkan, ada baiknya Presiden Jokowi semakin rajin berkunjung ke luar negeri untuk menarik minat investasi.
"Sayangnya kontribusinya belum banyak berdampak pada kualitas pertumbuhan itu sendiri, misalnya penyerapan tenaga kerja," tambahnya.
Adapun di kuartal II 2017, Faisal memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu tumbuh lebih baik dibandingkan kuartal I 2017, yaitu mencapai angka 5,13 persen. Namun, sampai akhir tahun, diperkirakan target pertumbuhan ekonomi revisi sebesar 5,2 persen masih sulit digenggam.
"Kalau target 5,1 persen masih bisa dicapai, kalau 5,2 persen sangat berat. Akhir tahun lalu memang diperkirakan bisa 5,2 persen tapi nyatanya penerimanan minim dan daya beli masyarakat lesu," pungkasnya.
(CNN Indonesia/Fajrian)
(CNN Indonesia/Asfahan Yahsyi)
(CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)