Dikutip dari Reuters, Jumat (21/7), pelaku pasar memprediksi harga minyak tertahan jelang pertemuan antar anggota organisasi negara-negara pengekspor minyak dunia (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) dan non-OPEC di Saint Petersburg, Rusia.
Selain itu, pasar juga mengawasi ketat laporan bahwa Arab Saudi, yang merupakan negara produsen minyak terbesar, tengah mempertimbangkan pemangkasan produksi lanjutan.
Akibatnya, harga Brent berjangka LCOc1 ditutup melemah US$0,4 per barel ke angka US$49,30 per barel. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) CLc1 turun US$0,33 per barel ke angka US$46,79 per barel.
Posisi ini berbanding terbalik dibanding sesi awal, di mana harga minyak terlihat menguat setelah Energy Information Administration (EIA) AS melaporkan penurunan persediaan minyak.
Meski begitu, persediaan minyak mentah AS yang ada di angka 490 juta barel masih lebih tinggi dibanding rata-rata lima tahun terakhir. Tak hanya itu, produksi AS pun tercatat meningkat 12 persen sejak pertengahan 2016 ke angka 9,4 juta barel per hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT