Separuh Tahun, Konsumsi Listrik Hanya Naik 1,37 Persen

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Jumat, 21/07/2017 17:42 WIB
Separuh Tahun, Konsumsi Listrik Hanya Naik 1,37 Persen Pertumbuhan konsumsi listrik semester I 2017 jauh lebih sedikit dibandingkan peningkatan di periode yang sama pada tahun lalu yang mencapai 7,82 persen. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT PLN (Persero) menyatakan penjualan listrik semua golongan di semester I tahun ini sebanyak 107,41 terawatt-hour (TWh). Angka ini hanya bertumbuh 1,37 persen dibandingkan konsumsi listrik di tahun lalu sebesar 105,96 TWh.

Namun, pertumbuhan ini jauh lebih sedikit dibandingkan pertumbuhan di periode yang sama pada tahun lalu yang mencapai 7,82 persen. Adapun, faktor yang menyebabkan penurunan penjualan itu adalah cuti bersama dan berkurangnya kegiatan perkantoran selama Ramadan kemarin.

Tak hanya itu, aktivitas industri di yang menurun selama Ramadan ikut menyumbang turunnya pertumbuhan konsumsi listrik secara signifikan. Pasalnya, sebagian besar pengguna listrik merupakan pelanggan industri.

Berdasarkan Statistik Ketenagalistrikan tahun 2016 saja, penjualan listrik dari golongan industri dan dunia usaha mencapai 101,04 Megawatt-Hour (MWh) atau 49,8 persen dari total penjualan listrik tahun lalu sebesar 202,84 MWh.


Meski pertumbuhan konsumsi melambat, Direktur Utama PLN Sofyan Basyir tetap optimistis pertumbuhan hingga akhir tahun bisa sesuai target yaitu 6,5 persen.

"Pertumbuhan listrik (bisa) lebih baik dari pertumbuhan ekonomi," papar Sofyan, Jumat (21/7).

Selain fokus pada pertumbuhan konsumsi listrik, perusahaan setrum pelat merah itu pun saat ini berkonsentrasi pada penurunan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) pembangkit listrik.

Terlebih, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga telah meminta PLN untuk menurunkan tarif listrik tiap tiga bulan sekali, atau setiap kali penyesuaian tarif (tarriff adjustment) dilakukan.

Kendati demikian, PLN boleh sedikit berbangga karena BPP di tahun 2016 sudah mencapai Rp983 per kilowatt-hour (KWh), atau turun 1,5 persen dari angka Rp998 per KWh di tahun sebelumnya. Untuk mencapai efisiensi lebih lanjut, PLN akan menurunkan biaya pemeliharaan pembangkit dan efisiensi dari berbagai sisi.

"Kalau turun diupayakan, tapi yang penting bagaimana supaya tarif ini tidak naik," paparnya.

Sekadar informasi, menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017 hingga 2026, rata-rata pertumbuhan penjualan listrik selama 10 tahun ke depan adalah 8,3 persen.

Pertumbuhan tertinggi disumbang dari golongan bisnis sebesar 9,5 persen, sementara pertumbuhan terendah akan disumbang dari sektor publik dan rumah tangga sebesar 8,6 persen.

Hingga akhir 2016, penjualan listrik PLN tercatat 216 TWh atau meningkat 6,5 persen jika dibanding penjualan tahun sebelumnya 202,8 TWh. Sementara itu, hingga akhir tahun ini, PLN menargetkan pertumbuhan penjualan listrik sebesar 6,5 persen atau setara 217,4 TWh hingga akhir tahun nanti.