Laris Manis, Premi Unitlink Melonjak jadi Rp1,21 Triliun

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Selasa, 25/07/2017 09:17 WIB
Laris Manis, Premi Unitlink Melonjak jadi Rp1,21 Triliun Sepanjang paruh pertama tahun ini, porsi premi produk unitlink mencapai sekitar Rp1,21 triliun, meningkat 30 persen-40 persen dari posisi Juni 2016. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rata-rata premi produk asuransi yang dikombinasikan dengan investasi (unitlink) tumbuh pada semester I 2017. Bahkan, kontribusi premi unitlink terhadap total premi mencapai hampir 50 persen.

Wakil Direktur Utama PT BNI Life Insurance Geger N. Maulana menjelaskan, perusahaan membukukan premi yang berasal dari produk unitlink hingga Juni 2017 sekitar Rp1,21 triliun. Angka itu setara dengan 45 persen dari total premi perusahaan.

"Porsi premi unitlink sekitar 45 persen dari Rp2,7 triliun, meningkat 30 persen-40 persen dari Juni 2016," kata Geger kepada CNNIndonesia.com, dikutip Selasa (25/7).


Sementara, kontribusi premi unitlink sepanjang tahun lalu sebesar 53 persen atau sekitar Rp2,49 triliun dari total raihan premi sebesar Rp4,7 triliun.

Geger mengakui, pertumbuhan premi dari produk unitlink didorong oleh tingkat kesadaran berinvestasi dari nasabahnya. Sehingga, tidak hanya produk tradisional yang laris, tetapi nasabah juga melirik produk unitlink.

"Sebagian besar nasabah kami paham atas risiko investasi dan pasar modal yang sangat tinggi, sehingga tidak panik apabila terjadi gejolak di pasar modal," papar Geger.

Untuk penempatannya sendiri, jelas Geger, perusahaan menempatkannya pada portofolio saham dan obligasi. BNI Life sendiri melihat profil nasabah dalam menentukan penempatan dari dana investasi tersebut.

"Nasabah agresif 80 persen saham, moderat 80 persen obligasi, dan nasabah prudent 50:50 antara saham dan obligasi," terang dia.

Sementara, Chief Marketing Officer PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) Shierly Ge menuturkan, total premi unitlink pada semester I 2017 sebesar Rp1,2 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, kenaikan premi unitlink tercatat mencapai 154 persen.

"Peningkatan ini didorong oleh adanya akuisisi terhadap CIMB Sun Life pada bulan Juli 2016 lalu," ujar Shierly.

Adapun, total premi hingga Juni sebesar Rp1,5 triliun. Artinya, premi yang bersumber dari produk lainnya hanya sebesar Rp300 miliar. Menurut Shierly, perusahaan berencana menambah daftar panjang produk unitlink yang saat ini berjumlah 12 produk dengan merilis produk baru.

"Untuk detailnya nanti akan kami sampaikan pada saat peluncuran," jelas Shierly.

Lebih lanjut Shierly mengatakan, kinerja dari unitlink sendiri bergerak positif seiring dengan kondisi pasar modal Indonesia. Beberapa portofolio yang dipilih perusahaa dalam menempatkan dana unitlink, yaitu saham, obligasi, dan reksa dana.

Untuk ke depannya, manajemen optimis produk unitlink sendiri memiliki prospek yang cerah. Hal ini didukung oleh kondisi ekonomi makro yang dinilai stabil, misalnya bisa dilihat dari inflasi dan suku bunga.

"Inflasi terkendali, suku bunga yg relatif stabil, kurs rupiah yang stabil, dan kenaikan pertumbuhan ekonomi dunia," pungkas Shierly.

Perusahaan asuransi lainnya, PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha alias Wanaartha Life mencatat, premi unitlink perusahaan berhasil tumbuh 17 kali lipat pada semester I dibandingkan dengan semester I tahun lalu.

"Hingga akhir Juni 2017 raihan total premi sebesar Rp 4,8 Triliun. Premi unitlink memberikan kontribusi sebesar 10 persen dari total pendapatan premi," tutur Direktur Utama Wanaartha Life, Yanes Matulatuwa.

Untuk memenuhi kebutuhan nasabahnya, perusahaan akan kembali merilis produk unitlink baru berbentuk syariah pada tahun ini. Saat ini, perusahaan sendiri telah memiliki tiga produk unitlink, yaitu Wana Link, Wal Link, dan Wana Bright Link.

Yanes menjelaskan, imbal hasil dari unitlink untuk portofolio saham diproyeksi dapat tumbuh mencapai 12 persen-13 persen hingga akhir tahun. Namun sebenarnya, tidak ada sentimen positif baru yang dapat mendongkrak keuntungan bagi nasabah.

"Namun stabilitas pertumbuhan yang saat ini masih terjaga dengan baik bisa tetap menjadi dorongan bagi tumbuhnya kinerja aset-aset finansial sesuai ekspektasi pasar," tutup Yanes.