"Kami sekarang lagi roadshow IDR, kalau permintaannya bagus mungkin akhir tahun kami akan launching global IDR," tutur Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo di Hotel Fairmont Jakarta, Selasa (25/7).
Menurut pria yang akrab disapa Tiko, korporasi di Indonesia perlu membuka pasar pendanaan baru mengingat melimpahnya penerbitan obligasi di dalam negeri. Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga relatif stabil di tengah gejolak perekonomian global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tiko mengungkapkan target raupan dari global IDR setara dengan US$250 juta. Namun, jumlah itu bisa jadi lebih kecil mengingat investor pasti memperhitungkan imbal hasil (yield) yang setimpal dengan risiko.
Tahun ini, kebutuhan pendanaan non konvensional perusahaan diperkirakan mencapai Rp10 triliun. Beberapa waktu lalu, Bank Mandiri juga telah menerbitkan obligasi senilai Rp6 triliun dengan kupon mulai dari 7,8 persen hingga 8,65 persen.
"Paling tidak, akhir tahun kami juga akan menerbitkan NCD (negotiable certificate of deposit atau sertifikat deposito), nilainya Rp2 triliun hingga Rp2,5 triliun," jelasnya.
"Kami belum selesai kajiannya. Karena ini produk baru, jadi harus disetujui oleh otoritas (Otoritas Jasa Keuangan)," tutur Direktur BNI Panji Irawan,Rabu (12/7) lalu.