"Kalau badan tidak enak, kadang kita tidak tahu penyebabnya, tetapi minimal kita harus menghilangkan pusing di kepala dengan cara pakai minyak angin. Tapi, kita lama-lama tahu ada yang tidak beres dalam tubuh kita, masak kita pakai minyak angin terus?," ujar Wakil Ketua Umum Tutum Rahanta dalam sebuah acara diskusi di Hotel Ibis-Harmoni Jakarta, Rabu (9/8).
Sebagai solusi jangka pendek, Tutum mengapreasiasi rencana percepatan penyaluran bantuan sosial. Apalagi, melihat konsumsi pada kuartal II 2017 hanya tumbuh tipis dibandingkan kuartal sebelumnya, yaitu dari 4,94 persen menjadi 4,95 persen secara tahunan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak kalah penting, lanjut Tutum, pemerintah juga harus hati-hati dalam mengkomunikasikan rencana kebijakan ekonomi. Jangan sampai menimbulkan kegaduhan dan ketakutan di kalangan konsumen dan produsen.
"Jangan menakut-nakuti orang yang punya niat untuk belanja. Kalau ada kesalahan, lakukan saja pemeriksaan, tetapi dengan cara yang smart (pintar),” terangnya.
Tutum meyakini, hingga kini, masyarakat masih memiliki daya beli. Tinggal bagaimana daya beli itu digunakan untuk konsumsi. Apabila masyarakat masih takut untuk konsumsi, perlambatan pertumbuhan sektor ritel bisa berlanjut.
Mengutip data survey lembaga AC Nielsen, konsumsi produk sehari-hari pada paruh pertama tahun ini hanya sebesar 3,7 persen. Padahal, rata-rata pertumbuhan sejak 2003 mencapai 11 persen setiap tahunnya.
Di tempat yang sama, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly Martawardaya juga menilai, BLT bisa menjadi solusi jangka pendek, tidak hanya untuk mendongkrak konsumsi masyarakat tetapi juga pemerintah.
Namun, senada dengan Tutum, ia melanjutkan, di tengah situasi perekonomian yang belum sepenuhnya pulih, pemerintah sebaiknya tidak mengeluarkan kebijakan yang menimbulkan kegaduhan di kalangan pelaku usaha dan konsumen.
Dalam jangka menengah dan panjang, pemerintah harus fokus pada upaya meningkatkan kemudahan usaha sehingga bisa menyerap tenaga kerja. Selain itu, pemerintah juga perlu meningkatkan kualitas sumber daya manusia, misalnya melalui pendidikan vokasi.