Daya Beli Stabil, Ekonom Tuding Masyarakat Rem Belanja

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 10/08/2017 13:19 WIB
Daya Beli Stabil, Ekonom Tuding Masyarakat Rem Belanja Konsumsi masyarakat masih bertumbuh pada kuartal II ini, yakni 4,95 persen. Walaupun, memang, tumbuhnya tipis apabila dibandingkan kuartal sebelumnya. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekonom membantah tudingan bahwa daya beli masyarakat melemah. Toh, mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi masyarakat masih bertumbuh pada kuartal II ini, yakni 4,95 persen. Walaupun, memang, tumbuhnya tipis apabila dibandingkan kuartal sebelumnya.

Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengungkapkan, meskipun penjualan ritel disebut-sebut melambat, konsumsi rumah tangga untuk sektor makanan dan minuman (mamin) selain restoran masih meningkat 5,24 persen di kuartal II 2017. Capaian ini bahkan lebih tinggi dibandingkan kuartal I 2017 sebesar 5,21 persen.

"Secara tahunan, pertumbuhan konsumsi masih relatif stabil dan yang lebih stabil lagi adalah konsumsi makanan dan minuman," ujarnya saat menyampaikan materi Banking Journalist Academy di Gedung WTC 2 Jakarta, Rabu (9/8).


Konsumsi sektor pakaian, alas kaki, dan jasa perawatan juga tumbuh 3,47 persen dari 3,3 persen di kuartal I 2017 dan 3,35 persen dari kuartal II 2016.

Tak hanya itu, masyarakat juga meningkatkan konsumsi untuk sektor restoran dan hotel dari kuartal I 2017 sebesar 5,43 persen menjadi sebesar 5,87 persen.

"Artinya, konsumen senang jalan-jalan dan makin sering makan di restoran," jelasnya.

Kendati demikian, katanya, masyarakat kelas menengah memang banyak mengurangi belanja kendaraan dan barang elektronik yang tercermin dari perlambatan pertumbuhan konsumsi sektor transportasi dan komunikasi. Yaitu, menjadi 5,32 persen di kuartal II 2017 dari sebelumnya 5,35 persen pada kuartal I 2017 dan 5,51 persen di kuartal II 2016.

Josua mengingatkan, daya beli sebenarnya diukur dari pendapatan. Menggunakan proxy uang beredar, Josua menyebutkan, laju pertumbuhan pendapatan per kapita masyarakat tidak mengalami perlambatan pada paruh pertama tahun ini.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), laju pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) pada Juni 2017 meningkat 11,4 persen secara tahunan lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu 8,7 persen.

Artinya, peningkatan daya beli ada, hanya saja masyarakat menahan konsumsi karena belum memiliki kepercayaan (confidence) terhadap kondisi perekonomian.

"Mengapa masyarakat mengerem konsumsi? Karena confidence tidak ada. Melihat ada ketidakpastian global, lebih baik menahan konsumsi dan menabung," terang Josua.

Tak ayal, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan lebih cepat dibandingkan penyaluran kredit selama beberapa bulan terakhir. Berdasarkan data BI, pertumbuhan DPK per Juni mencapai 10,2 persen, sementara kreditnya hanya meningkat 7,6 persen.

Hal itu juga terkonfirmasi dari survey konsumen BI yang menyatakan sejak akhir tahun lalu, masyarakat cenderung meningkatkan porsi tabungan dan menurunkan porsi konsumsi dari pendapatannya.

Karenanya, penting bagi pemerintah meningkatkan confidence masyarakat. Untuk kalangan menengah ke bawah, pemerintah bisa memberikan bantuan tunai atau menyelenggarakan program padat karya.

Ditemui terpisah, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly Martawardaya menilai, daya beli masyarakat masih relatif stabil. Sayangnya, hal itu belum cukup karena sejumlah pihak mengharapkan adanya peningkatan.

Menurut Berly, stagnansi pertumbuhan ekonomi pada kuartal lalu lebih disebabkan oleh turunnya belanja pemerintah yang minus 1,93 persen secara tahunan.

Jika masyarakat percaya daya beli lesu akibatnya pelaku usaha akan takut melakukan ekspansi usaha, konsumen pun juga akan menahan belanja. Pada akhirnya, daya beli akan menjadi benar-benar lesu akibat ramalan yang diwujudkan sendiri (self-fulfilling prophecy).

"Kita harus hati-hati dengan self-fulfilling prophecy. Jadi karena dibilang 'wah, banyak yang bilang semua melambat' akhirnya orang betul tidak mau belanja atau investasi," imbuh Berly.

Guna mengoptimalkan daya beli ke arah konsumsi, pemerintah sebaiknya berupaya menciptakan suasana stabil dan kondusif dengan tidak mengeluarkan rencana kebijakan yang menimbulkan kegaduhan di kalangan masyarakat.

Dalam jangka menengah dan panjang, pemerintah juga harus fokus pada upaya meningkatkan kemudahan berusaha. Sehingga, bisa menyerap tenaga kerja dan pembangunan infrastruktur. Selain itu, pemerintah juga perlu meningkatkan kualitas sumber daya manusia misalnya melalui pendidikan vokasi. (bir)


BACA JUGA