Memperjuangkan Kemerdekaan Finansial di Bursa Saham

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Kamis, 17/08/2017 14:23 WIB
Investor Ritel Lokal Hanya 0,02 Persen Meski Indonesia telah merdeka selama 72 tahun dan pasar modal telah hadir selama 40 tahun, penetrasi saham ke masyarakat belum maksimal. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Investor Ritel Lokal Hanya 0,02 Persen

Jumlah investor ritel lokal saat terbilang masih jauh dari total penduduk di Indonesia. Meski Indonesia telah merdeka selama 72 tahun dan pasar modal telah hadir selama 40 tahun, penetrasi saham ke masyarakat belum maksimal.

Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan, pada akhir Juli 2017 jumlah investor lokal hanya sebanyak 568.923 atau 0,02 persen dari total penduduk Indonesia yang sebanyak 270 juta penduduk.

Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan jumlah investor lokal terbilang tipis. Pada Desember 2012, investor lokal tercatat sebanyak 267.995. Kemudian, dua tahun kemudian hanya tumbuh menjadi 350.020.


Selanjutnya, jumlah investor akhirnya berhasil tembus menjadi 418.791 pada tahun 2015 dan ditutup di angka 518.814 pada akhir Desember 2016.


Bila dibandingkan dengan seluruh jumlah investor lokal di pasar modal, jumlah investor ritel ini berkontribusi hingga 98,96 persen. Sementara, sisanya merupakan institusi.

Sayangnya, meski menang dalam hal jumlah akun, investor ritel hanya menggenggam 16,61 persen dari seluruh saham di lantai bursa. Angka itu berbanding terbalik dengan jumlah portofolio saham institusi yang mencapai 83,39 persen.

Selain itu, jumlah investor saham ini dikatakan jauh berbeda dengan pemilik rekening simpanan bank di Indonesia yang mencapai jutaan. Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), total rekening simpanan yang dijamin pada akhir Mei 2017 mencapai 212.680.776 rekening.

Angka itu naik 5.795.353 rekening atau 2,8 persen dari jumlah rekening April 2017 sebanyak 206.885.423 rekening. Secara rinci, total rekening dengan simpanan sampai Rp2 miliar sebanyak 212.439.502 dan terdapat 241.274 rekening dengan saldo diatas Rp2 miliar.

Data-data tersebut mengindikasikan mayoritas masyarakat lebih memilih menyimpan dananya di perbankan daripada mencari keuntungan di pasar modal.

Berbagai upaya pun telah dilakukan oleh pihak BEI maupun KSEI untuk menjaring masyarakat masuk ke pasar modal. Misalnya saja, BEI gencar membangun galeri investasi di beberapa kampus, baik yang berada di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa sejak tahun 2000.

Direktur Pengembangan BEI Nicky Hougan mengatakan, beberapa kegiatan edukasi dibentuk setelah galeri investasi dibuka di kampus. Kegiatan itu berupa seminar, pembentukan kelompok studi pasar modal, dan kompetisi pasar modal.

Saat ini, ada sekitar 250 galeri investasi. Mayoritas galeri investasi dibangun dalam dua tahun terakhir, seiring dengan turunnya biaya setoran awal investasi saham menjadi Rp100 ribu dari sebelumnya yang mencapai Rp10 juta.

"Catatan bursa dua tahun terakhir ini lebih dari 150 galeri investasi, ini karena ada momentum yang memungkinkan kami lebih agresif ke mahasiswa atau publik karena bisa mulai dengan Rp100 ribu," papar Nicky.

Selain galeri investasi, BEI juga mengadakan kampanye Yuk Nabung Saham sejak 2015 lalu. Dengan kampanye tersebut, BEI berharap pola pikir masyarakat mulai berubah untuk menabung di pasar modal dibandingkan hanya sekadar mengendapkan dananya di perbankan.

"Tahun 2016 kelihatannya mulai berbuah ada tambahan lebih dari 100 ribu investor, tahun ini lebih dari 20 persen investor baru terlihat aktif dalam transaksi bulanan," kata Nicky.

[Lapsus] Memperjuangkan Kemerdekaan Finansial di Bursa SahamAktivitas perdagangan saham. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Selanjutnya, jelas Nicky, pihaknya juga rutin membuat sekolah pasar modal untuk masyarakat umum. Selain itu, BEI juga sudah mulai masuk ke pedesaan terpencil untuk mengedukasi masyarakat pedalaman dalam berinvestasi saham.

Menurutnya, pertanyaan yang seringkali muncul dari warga desa ketika program edukasi berlangsung di Balai Desa, yakni terkait dengan setoran modal awal.

"Pak berapa modal awalnya, berapa setorannya? Itu yang paling sering ditanyakan," ungkap Nicky.

Sementara itu, KSEI akan memberikan dukungan dengan membangun infrastruktur untuk memberikan kemudahan pembukaan rekening kepada investor ritel. Umumnya, KSEI akan bekerja sama dengan perusahaan efek dan beberapa bank.

"Proses pembukaan rekening efek dan Rekening Dana Nasabah (RDN) dari calon investor di daerah yang bisa sampai dua minggu, bisa dipersingkat menjadi kurang dari 1 jam," kata Direktur KSEI Syafruddin.

Namun, infrastruktur ini juga perlu didukung oleh perusahaan efek. Pasalnya, jika perusahaan efek belum mengubah mekanisme pendaftaran atau pembukaan RDN, maka infrastruktur yang dibangun oleh KSEI akan percuma.


"Kalau masyarakat sudah mau tapi perusahaan efek masih pakai cara konvensional, jadi tidak optimal," sambung Syafruddin.

Adapun, Nicky menjelaskan, bukan hanya penambahan investor yang perlu diperhatikan. Namun, jumlah transaksi investor ritel tiap bulannya juga menjadi fokus BEI.

"Nah sejauh ini dari rata-rata nilai transaksi Rp7,5 triliun, sekitar 30 persen dari ritel," ujar Nicky.

Perlu Masuk Kurikulum Sekolah

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3