Memperjuangkan Kemerdekaan Finansial di Bursa Saham

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Kamis, 17/08/2017 14:23 WIB
Perlu Masuk Kurikulum Sekolah Edukasi pasar modal di Indonesia terbilang terlambat. Sehingga, penetrasi ke masyarakat belum maksimal hingga saat ini. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Perlu Masuk Kurikulum Sekolah

Pengamat pasar modal Irwan Ariston Napitupulu menilai, edukasi pasar modal di Indonesia terbilang terlambat. Sehingga, penetrasi ke masyarakat belum maksimal hingga saat ini.

Menurutnya, edukasi kepada mahasiswa ataupun sekolah pasar modal yang dilakukan oleh BEI tidak memberikan pengetahuan yang komprehensif kepada publik.

Ia menyarankan, BEI mulai bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud) untuk merangsek hingga ke sekolah dasar (SD). Pasar modal dinilainya perlu untuk masuk sebagai salah satu kurikulum atau mata pelajaran di SD.


"Jadi kan yang penting tahu dulu ada investasi namanya saham. Mereka bisa termotivasi, 'Saya harus sukses', dengan berinvestasi di saham," ucap Irwan.


Namun, jika memasukan kurikulum membutuhkan waktu lama, maka untuk jangka pendeknya BEI bisa membuat kompetisi untuk anak SD terkait investasi saham. Selain itu, membuat kelompok belajar dan gathering di SD tentang pasar modal juga bisa menjadi alternatif lain.

"Kemudian BEI juga bisa membuat website apa itu saham, tapi khusus misalnya untuk anak SD, SMP, SMA," sambungnya.

Menurut Irwan, praktik pelajaran pasar modal di beberapa SD sebenarnya sudah dilakukan di Amerika Serikat. Sehingga, penetrasi investasi saham di negara tersebut jauh lebih maju dibandingkan dengan Indonesia.

[Lapsus] Memperjuangkan Kemerdekaan Finansial di Bursa SahamIlustrasi edukasi pasar modal. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Sementara itu, analis Oso Sekuritas Riska Afriani menuturkan, kunci dari pemerataan informasi hanya dari edukasi. Masalahnya, masyarakat kelas menengah ke atas pun masih banyak yang belum mengerti dengan pasar modal.

Ia melihat, masih kecilnya jumlah investor di Indonesia bukan hanya persoalan kesenjangan antara kelas menengah atas dan bawah masih tinggi. Namun, kondisi ini juga terkait dengan pilihan masyarakat kelas menengah dan menegah ke atas yang masih percaya dengan perbankan dalam menyimpan dananya.

"Jumlah orang kaya kan tidak mungkin hanya nol koma sekian persen atau hanya 1 persen. Buktinya jumlah tabungan meningkat," kata Riska.

Mengutip Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin per Maret 2017 sebanyak 27,7 juta atau meningkat 6.900 orang jika dibandingkan dengan September 2016 yang sebanyak 27,76 juta. Sementara, ada 37 juta rumah tangga yang masuk dalam kelas menengah atau 60 persen dari total penduduk Indonesia.

Artinya, jika masyarakat kelas menengah tersebut memiliki pengetahuan tentang saham, maka dipastikan pertumbuhan investor ritel akan signifikan setiap tahunnya.

Menurutnya, beberapa hal yang masih perlu dilakukan BEI, yakni memperbanyak iklan terkait jumlah return yang bisa didapat oleh investor saham tiap bulan atau per tahunnya. Selain itu, tata cara pembelian saham juga dapat menjadi materi dari iklan tersebut.

"Banyak yang masih belum tahu harus ke mana, sementara banyak juga yang tidak tahu perusahaan sekuritas itu apa," ucap Riska.


Selain melakukan edukasi kepada mahasiswa dan masyarakat desa, BEI juga bisa mulai merambah ke beberapa kantor untuk memberikan kelas pelatihan. Pasalnya, masih banyak karyawan yang hanya tahu tentang reksa dana, tapi tidak dengan saham.

"Kan yang punya uang karyawan. Jadi mungkin bisa kerja sama dengan perusahaan sekuritas. Jadi tidak hanya direktur utama yang main saham, tapi juga office boy," sambungnya.

Menurutnya, pertumbuhan investor ritel dapat melumpuhkan ketergantungan pasar modal Indonesia dari investor asing. Pasalnya, meski jumlah investor asing semakin berkurang, porsi kepemilikan saham mereka masih mendominasi.
HALAMAN :
1 2 3