Analisis

Tensi Geopolitik AS-Korut Hadang Laju Indeks Sektor Tambang

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Senin, 14/08/2017 12:38 WIB
Dalam dua pekan terakhir, saham sektor tambang menunjukkan penurunan. Pada pekan lalu, laju indeks sektor tambang turun hingga 0,98 persen ke level 1.485,78. Rata-rata emiten tambang membukukan kenaikan laba bersih dan pendapatan pada paruh pertama tahun ini. (CNNIndonesia/SAFIR MAKKI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peningkatan tensi geopolitik yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dengan Korea Utara membuat pelaku pasar tidak cukup percaya diri berinvestasi di pasar modal. Hal ini tercermin dari pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 0,19 persen sepanjang pekan lalu.

Kondisi ini juga membuat laju indeks sektoral bergerak bervariasi, sehingga sebagian sektor berada di teritori negatif, khususnya sektor tambang. Bila dicermati kembali, sektor tersebut terus merosot dalam dua pekan berturut-turut.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukan, dua pekan lalu sektor tambang turun tipis 0,03 persen. Kemudian, penurunan berlanjut pada pekan lalu hingga 0,98 persen ke level 1.485,78.
Pergerakan saham emiten tambangFoto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Pergerakan saham emiten tambang
Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang mengatakan, pelaku pasar memutuskan untuk memindahkan asetnya pada safe haven. Hal ini dilakukan, karena mereka khawatir nilai portofolio saham akan menurun akibat kondisi politik global yang tidak menentu.


"Mereka pada ambil aset safe haven, lari ke emas karena memang kalau yang mengandung lindung nilai (hedging) ke emas," ucap Edwin kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (12/8).

Menurut Edwin, kondisi politik antar kedua negara tersebut memang menjadi pertimbangan utama pelaku pasar. Ini terbukti dengan kenaikan harga sejumlah komoditas tambang yang tak cukup mampu mendorong aksi beli saham berbasis tambang.

"Iya kalau tidak ada masalah geopolitik, ini harusnya bagus untuk sektor tambang," sambung Edwin.

Harga batu bara Rotterdam pekan lalu, jelas Edwin, bergerak di level sekitar US$86-88 per metrik ton. Sementara itu, pekan sebelumnya berada di level US$84 per metrik ton.

Kemudian, harga nikel naik tipis menjadi US$11 ribu per ton dibandingkan dengan sebelumnya di level US$10.500 per ton. Begitu juga dengan harga emas yang naik ke level US$1.200 per troy ounce dari US$1.140 per troy ounce.

Di sisi lain, Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi menuturkan, penurunan indeks sektor tambang juga disebabkan adanya aksi ambil untung (profit taking). Pasalnya, pada bulan lalu, harga saham tambang tumbuh cukup signifikan.

"Kalau dilihat, harga saham tambang cukup signifikan naiknya pada akhir bulan Juli, jadi pelaku pasar menilai harga saham cukup price in untuk profit taking jangka pendek," papar Lanjar.

Berdasarkan catatan CNNIndonesia.com, rata-rata emiten tambang membukukan kenaikan laba bersih dan pendapatan pada paruh pertama tahun ini. Kenaikan terutama terjadi pada PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS).

Laba bersih perusahaan naik hingga 1.315 persen menjadi US$51,25 juta dari periode yang sama tahun lalu US$3,62 juta. Sementara, pendapatannya hanya tumbuh 53,35 persen menjadi US$279,88 juta.

Selanjutnya, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) meraup laba bersih sebesar Rp1,72 triliun, atau naik 142 persen dari Rp711,77 miliar. Kemudian, laba bersih PT. Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik 188,62 persen.
Kinerja keuangan emiten sektor tambangFoto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Kinerja keuangan emiten sektor tambang
Kenaikan laba emiten-eminten tambang tersebut antara lain didorong oleh kenaikan harga komoditas, khususnya batu bara. Salah satu penyebab harga batu bara naik, yakni meningkatnya permintaan akhir tahun.

Adapun beberapa harga saham tambang yang terkoreksi sepanjang pekan lalu, diantaranya Indo Tambangraya, Bukit Asam, Golden Energy, dan PT Adaro Energy Tbk (ADRO).

Bukit Asam turun cukup dalam hingga 3,27 persen ke level Rp13.300 per saham dari awal pekan di level Rp13.750 per saham. Diikuti oleh saham Indo Tambangraya yang merosot 3,15 persen ke level Rp19.950 per saham.

Kemudian, harga saham Adaro Energy ditutup melemah ke level Rp1.820 per saham atau terkoreksi 1,62 persen. Sementara, saham Golden Energy bergerak stagnan di level Rp2.800 per saham.

Pasar Masih Wait and See

Sepanjang pekan ini, pelaku pasar diprediksi masih menunggu (wait and see) perkembangan politik antara AS dan Korea Utara. Imbasnya, indeks sektor tambang masih akan bergerak stagnan.

"Sentimen masih buruk. Kalau harga komoditas masih cukup baik, tapi ya memang ada sentimen geopolitik," ucap analis Erdhika Elit Sekuritas, Toufan Yamin.

Sikap dari kedua pemimpin negara ini, lanjut Toufan, membuat pelaku pasar sulit menebak atau berspekulasi kelanjutan dari kondisi geopolitik AS dan Korea Utara.

"Ini kan kita masih belum tahu risiko geopolitik ini dampak ke depan bagaimana, karena Donald Trump dan Kim Jong Un pemimpin yang tidak bisa ditebak," ujarnya.
Namun, bagi pelaku pasar yang sudah terbiasa melihat adu mulut dari Donald Trump dan Kim Jong Un, biasanya akan memanfaatkan momentum koreksi dengan melakukan akumulasi beli. Sehingga, pelaku pasar bisa menjual sahamnya ketika harganya mulai menguat.

Untuk itu, ia menyarankan pelaku pasar tetap membeli saham batu bara untuk jangka pendek. Sementara, untuk jangka menengah dan panjang, investor disarankan membeli saham berbasis nikel.

"Karena belakangan ini harga nikel naik lagi," imbuh Toufan.

Sementara itu, Edwin melihat sektor tambang berpotensi bangkit (rebound). Valuasi saham tambang yang terbilang masih murah akan mendorong pelaku pasar melakukan aksi beli.

Valuasi yang murah tersebut juga membuka peluang kenaikan bagi sebagian harga saham tambang. Beberapa saham tambang yang dimaksud, diantaranya Bukit Asam, Indo Tambangraya, dan PT Harum Energy Tbk (HRUM).

"Harga komoditas lagi bagus, pelaku pasar yang cermat justru harusnya beli saat harga turun," kata Edwin.