Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam menuturkan, pajak dari hasil produksi ini tentu sangat mempengaruhi keekonomian lapangan tersebut. Apalagi, selain pajak impor minyak ke Indonesia, rencananya Rusia juga akan membebani pajak lain yakni pajak akuisisi kepada Pertamina dengan nilai yang tidak sedikit.
"Kalau di Rusia kelihatannya (akuisisi lapangan minyak) kesulitan di area tax. Tax untuk produksi minyak yang rencananya kami bawa. Karena kami di sana dapat tax di sini juga dapat tax. Jadi keekonomian kita tidak bisa masuk," ujar Syamsu, Rabu (16/8).
Ia melanjutkan, usulan keringanan pajak itu sudah diusulkan ke pemerintah. Sayang, hingga saat ini, pemerintah belum merespons permintaan Pertamina.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami kan tidak bisa menahan terus sementara (hak partisipasi) dua lapangan itu sudah ada yang mau beli. Jadi kami sampaikan ke mereka, bahwa untuk yang ini mungkin kami kesulitan untuk bisa melakukan closing. Sehingga silahkan saja kalau mereka mau melakukan bisnis dengan perusahaan lain," imbuhnya.
"Nanti kami akan bicara dengan Lukoil, dengan Rosneft, dimana lapangan mana lagi yang bisa kami dapat peluang untuk masuk kedalamnya," imbuh Syamsu.
Sebagai informasi, hak partisipasi lapangan Russkoye dan Chavyo merupakan bagian dari kesepakatan Pertamina dan Rosneft dalam menggarap kilang Tuban.
Sesuai kesepakatan yang ditandatangani tanggal 4 Oktober 2016 silam, Pertamina akan mendapatkan kepemilikan 20 persen di lapangan Chavyo Field dan 37,5 persen di Russkoye Field.
Tawaran Lebih Besar
Lepas dari Rusia, Pertamina malah berpeluang besar untuk mengelola blok Mansouri dan Ab-Teymour di Iran. Meski demikian, Pertamina mungkin berpeluang menggarap satu dari dua blok tersebut terlebih dulu.
Bahkan, menurut Syamsu, Pertamina sebenarnya juga telah menerima tawaran dari National Iranian Oil Company (NIOC) untuk menggarap satu blok lain di Iran.
Namun, Pertamina masih menunggu syarat-syarat kontrak pengelolaan migas di sana (Iranian Petroleum Contract/IPC), apalagi ketentuan tersebut belum diterbitkan Iran sama sekali.
"Kami tidak bisa memastikan jadinya tahun ini apa tidak, karena tergantung kontrak pengelolaan minyak Iran. Mereka saja belum tahu, belum mengeluarkan secara resmi apakah berbentuk service fee atau kontrak bagi hasil produksi, kami belum tahu," imbuhnya.
Sekadar informasi, Mansouri dan Ab-Teymour merupakan dua blok yang dibidik Pertamina dengan cadangan 3 miliar barel dengan total produksi 120 ribu barel per hari. Adapun, dua blok tersebut terdspat di provinsi Khuzestan. (gir)