Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Persatuan Pembangunan Achmad Farial mengaku, khawatir jika harga gas dari Singapura malah tak efisien karena Indonesia akan membeli LNG di perusahaan perantara (trader). Apalagi, sumber gas dalam bentuk LNG di dalam negeri pun masih banyak yang belum memiliki komitmen penyerap (uncommitted).
"Singapura ini tidak ada sumber energi. Berarti, kan Indonesia akan impor dari trader? Mereka di sana hanya punya fasilitas regasifikasi terapung saja (Floating Storage Regasification Unit/FSRU) saja," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (25/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karenanya, perlu dilakukan audit neraca gas nasional yang komprehensif agar angka proyeksi kebutuhan sesuai dengan kemampuan produksi gas nasional," tutur Rofi.
Menurut data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), pemanfaatan gas untuk LNG ekspor tercatat sebesar 2.052,5 BBTUD atau 29,34 persen dari pemanfaatan gas bumi nasional sebesar 6.991,4 BBTUD pada tahun 2016.
"Kami menyadari bahwa gas adalah energi tak terbarukan yang suatu saat bisa habis tak tersisa. Tapi, dari yang ada saat ini saja belum bisa dimanfaatkan dengan optimal. Pemerintah perlu melakukan proyek-proyek pengembangan lapangan gas yang ada saat ini maupun masa depan," jelasnya.
Adapun, pemerintah memiliki dua pilihan opsi untuk mendatangkan LNG dari Singapura. Yang pertama, adalah opsi pertukaran penggunaan LNG (swap). Kedua, yaitu murni impor dari Singapura.
"Kalau mereka kasih harga yang menarik, kami pertimbangkan dong. Kan ujung-ujungnya ke harga jual masyarakat juga," terang Luhut.
"Semua hal-hal yang berkaitan tawaran impor harus hati-hati dievaluasi. Nah, US$3,8 per MMBTU hingga US$4 per MMBTU itu setahu saya baru regasifikasi dan transportasi. Kalau harga impornya mahal, maka nanti yang kena ya harga listrik ke bawah," pungkasnya. (bir)