Direktur Pengadaan 2 PLN Supangkat Iwan Santoso merinci, ketiga PLTU yang dimaksud, yakni PLTU Mulut Tambang Jambi Tahap I berkapasitas 2x300 Megawatt (MW), PLTU Mulut Tambang Kalselteng 3 berkapasitas 200 MW, serta PLTU Mulut Tambang Kaltim 5 berkapasitas 200 MW.
Kendati demikian, ia tak menyebut nama perusahan yang lahan tambangnya akan diakusisi PLN. "Dari ketiga PLTU, saat ini, proses yang utama adalah negosiasi dengan mitra kami. Semuanya positif," ujarnya di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Selasa (29/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Hitung-hitungan Valuasi Saham Freeport |
"Tapi, kami yakinkan bahwa cadangan ini masih banyak untuk Kalselteng 3," paparnya.
Menurutnya, skema ini akan diimplementasikan di seluruh PLTU mulut tambang yang sedianya direncanakan di dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Namun, PLN berupaya agar disparitas harga batu bara antara PLTU mulut tambang dengan PLTU lainnya juga bisa berkurang. Makanya, selain untuk PLTU mulut tambang, akuisisi tambang juga akan dilakukan PLN demi memasok PLTU non-mulut tambang.
Sebagai informasi, PLN membuka 16 proyek baru PLTU mulut tambang pasca Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017 hingga 2026 terbit bulan April silam. Rencananya, 16 proyek itu berkapasitas total 6.990 Megawatt (MW). Dari angka tersebut, sebanyak 5.390 MW berada di Sumatera dan 1.600 MW akan dibangun di Kalimantan.
Jika seluruh proyek ini terealisasi, maka bauran energi (energy mix) bagi batu bara mencapai 50,4 persen dari awalnya 50,3 persen dari total bauran energi nasional. Adapun, tambahan kapasitas pembangkit bertenaga batu bara diproyeksi sebesar 31,9 Gigawatt (GW) pada 10 tahun mendatang.