OJK Ramal Pembiayaan dari Pasar Modal Tembus Rp170 Triliun

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Kamis, 31/08/2017 14:20 WIB
OJK Ramal Pembiayaan dari Pasar Modal Tembus Rp170 Triliun Jumlah prediksi pembiayaan dari pasar modal pada 2017 itu turun 14,87 persen dari capaian tahun 2016 sebesar Rp195,37 triliun. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan pasar modal diperkirakan mampu memberikan pembiayaan kepada perusahaan mencapai Rp170,1 triliun sepanjang tahun ini. Jumlah itu turun 14,87 persen dari capaian tahun 2016 sebesar Rp195,37 triliun.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, sektor jasa keuangan pada tahun ini diperkirakan akan dapat menyalurkan pembiayaan sebesar Rp717 triliun. Di mana 73 persen dana tersebut berasal dari sektor perbankan nasional; 24 persen dari sektor pasar modal dan sisanya dari sektor Industri Keuangan Non Bank (IKNB).

"Tahun ini Pasar Modal diperkirakan akan dapat menghimpun dana sebesar Rp170,1 triliun," ujarnya dalam sambutan di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (31/8).



Ia menambahkan, saat ini masih terdapat jurang pembiayaan (funding gap), sehingga perlu mendorong peran pasar modal Indonesia khususnya dalam membiayai infrastruktur. Wimboh menyadari nilai tersebut masih jauh dari kebutuhan investasi nasional.

"Oleh karena itu, ke depan kami akan terus mendorong Pasar Modal Indonesia untuk lebih berkembang menjadi salah satu sumber pendanaan jangka panjang yang signifikan bagi dunia usaha dan juga bagi pemerintah untuk membiayai berbagai program pembangunan nasional, khususnya pembangunan infrastruktur," jelas WImboh.


Wimboh menyatakan bakal mendorong pasar modal ke depan melalui penawaran saham perdana (IPO), menyederhanakan proses penawaran umum, memperkuat tata kelola perusahaan yang baik (GCG) dan meningkatkan literasi melalui program edukasi.

"Kami akan terus membangun kredibilitas dan pendalaman pasar modal kita dengan mendorong IPO dan jumlah investor domestik yang lebih banyak, menyediakan produk pasar modal yang lebih beragam, menyiapkan infrastruktur pasar modal yang lebih handal dan kompetitif, menyederhanakan proses penawaran umum, memperkuat penerapan Good Corporate Governance emiten, serta melanjutkan edukasi bagi investor," katanya.