Sampoerna Sebut 70 Persen Kebutuhan Tembakau dari Kemitraan

Agustiyanti, CNN Indonesia | Jumat, 08/09/2017 10:44 WIB
Sampoerna Sebut 70 Persen Kebutuhan Tembakau dari Kemitraan Saat ini, Sampoerna melalui perusahaan pemasok tembakau menggandeng 27.500 petani yang menggarap lahan tembakau seluas 24.000 hektar persegi. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)
Lombok, CNN Indonesia -- PT HM Sampoerna Tbk menyebut sekitar 70 persen kebutuhan tembakau perseroan dipenuhi melalui program kemitraaan.

Saat ini, Sampoerna melalui perusahaan pemasok tembakau menggandeng 27.500 petani yang menggarap lahan tembakau seluas 24.000 hektar persegi. Kemitraan itu dikenal dengan Integrated Production System atau IPS.

"Melalui program kemitraan, Sampoerna telah meninggalkan sistem pembelian daun tembakau yang berlapis. Saat ini pembelian daun tembakau dari petani kontrak tumbuh secara signifikan dari 12 persen di tahun 2011 menjadi sekitar 70 persen di tahun ini,” ujar Head of Fiscal Affairs and Communications Sampoerna Elvira Lianita, di Mataram, Kamis (7/9).


Program IPS, tambah dia, menjadi solusi karena belum maksimalnya serapan tembakau lokal. Saat ini, kebutuhan nasional mencapai sekitar 340 ribu ton, tetapi pasokan tembakau dalam negeri baru bis memenuhi sekitar 200 ribu ton.

Dengan demikian, ada kekurangan sekitar 140 ribu ton yang masih dipenuhi dari impor.
Dengan program tersebut, Sampoerna, melalui perusahaan pemasok tembakau, menjamin penyerapan hasil tembakau para petani binaannya selama sesuai dengan standar yang telah disepakati.

Pendampingan Petani

Para petani binaan juga memeroleh pendampingan teknis seperti informasi dan bimbingan praktik pertanian tembakau yang baik, serta akses permodalan.

"Melalui program ini, kami berharap para petani dapat memproduksi tembakau yang berdaya saing dan efisien, serta memenuhi standar kualitas perusahaan, ketentuan regulasi, serta ekspektasi konsumen,” terangnya.
Elvira menjelaskan, program IPS saat ini diselenggarakan di Lombok, Jember, Wonogiri, Malang, Rembang, Blitar, dan Lumajang. Secara total, ada sekitar 27.500 petani yang telah bergabung untuk menggarap lahan tembakau seluas 24.000 hektar persegi.

Berkat program IPS, menurut dia, petani mampu meningkatkan produktivitas hingga 25 persen, sehingga berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani.

Para petani peserta IPS juga memeroleh dukungan teknologi, termasuk teknik pembakaran dengan sistem rocket barn yang mampu menghemat konsumsi bahan bakar hingga 16 persen, dan alat aplikasi penghambat tunas yang mampu menghemat waktu pengerjaan hingga lebih dari 60 persen.