Direktur Utama Indonesia Power Sri Peni Inten Cahyani mengungkapkan, perusahaan telah menghimpun dana sekuritisasi tahap pertama sebesar Rp4 triliun. Adapun, menurutnya, saat ini lelang EPC masih berlangsung.
"Saat ini, kami masih dalam proses lelang EPC," ujarnya ditemui di Bursa Efek Indonesia, Kamis (20/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan menimbang porsi pembiayaan di angka 30 persen dari belanja modal, maka PLN harus menyetor kas internal sebesar Rp6 triliun untuk proyek tersebut. Meski demikian, ia menyebut, uang sekuritisasi ini tidak akan digunakan seluruhnya.
Selain PLTU Suralaya, dana ini akan digunakan untuk mengembangkan PLTU mulut tambang Kalimantan Timur dengan kapasitas 2x100 MW dan pembangkit Energi Baru Terbarukan dengan kapasitas 30 MW. Tak hanya itu, dana sekuritisasi juga akan digunakan bagi pembangkit listrik bergerak (Mobile Power Plant/MPP) di Indonesia Timur.
Tahun ini, PLN mulai melakukan sekuritisasi aset dengan skema EBA demi menambah portfolio pendanaan milik perseroan. Sebelumnya, PLN mencari pendanaan melalui pinjaman perbankan, obligasi, penerusan pinjaman, hingga pinjaman dengan Export Credit Agency.
Indonesia Power mengeIoIa operasi dan pemeliharaan pembangkit sebesar 14.826 MW, yang terdiri dari delapan unit Pembangkit, yakni Suralaya, Semarang, Perak Grati, Saguling, Bali, Mrica, Priok, serta Kamojang. Selain itu, Indonesia Power juga mengoperasikan 13 Pembangkit milik PLN.