Namun Arrahmah bukan sembarang lembaga. Dia adalah salah satu contoh Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) berbasiskan koperasi dan UKM di Sukabumi, Jawa Barat, yang dijadikan contoh Jokowi.
Jokowi mengatakan dirinya ingin petani bentuk korporasi hingga proses hulu hingga hilir dikuasai. Tujuannya, kesejahteraan petani meningkat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Skema harus ada perubahan. Misalnya, ketentuan non-collateral, bagaimana untuk perusahaan baru? Padahal kan alat mesin butuh investasi," kata Luwarso.
Sektor pertanian memang sering disorot. Para petani kerap kehilangan lahan karena akuisisi lahan oleh bisnis skala besar. Di sisi lain, akses terhadap jasa keuangan semakin terbatas.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, sebenarnya pemerintah menginstruksikan agar bank penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) tidak meminta agunan tambahan kepada debitur, termasuk petani.
"Bank tidak diwajibkan meminta agunan," ujar Darmin.
[Gambas:Youtube]
Masalahnya, KUR tanpa agunan juga jadi bayang-bayang bagi perbankan.
Sebab, ada risiko membengkaknya rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) yang harus ditanggung.
PT Bank Negara Tabungan (Persero) Tbk menyatakan sebenarnya perusahaan telah memberikan kredit tanpa agunan dengan plafon lebih dari Rp25 juta, yaitu mencapai Rp100 juta.
Namun, untuk plafon bagi petani mandiri dan baru memulai usaha memang harus dilihat kembali karena perseroan perlu memikirkan mitigasi untuk menahan risikonya.
"Sebenarnya mungkin saja (kredit tanpa agunan dengan plafon tinggi). Tapi kami tetap harus lihat dari sisi bisnis model dan cara mitigasinya," kata General Manager Bisnis Kecil BNI Anton Siregar.
Petani seringkali tak mendapatkan pembiayaan bank karena tak memiliki jaminan. (ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha) |
Model Tanpa Agunan
Ekonom Universitas Indonesia (UI) Lana Soelistianingsih menilai, kredit tanpa agunan memang dibutuhkan.
Hal itu, kata dia, karena petani yang tak memiliki banyak jaminan, bisa-bisa lari ke rentenir.
Lainnya, perbankan juga menghadapi kompetitor baru yakni perusahaan teknologi jasa keuangan, khususnya yang bermodel peer-to-peer (P2P).
"Perlahan, P2P ini berikan pinjaman yang mungkin lebih kecil tapi menang dari sisi tak ada agunan dan caranya yang lebih sederhana. Nantinya, plafon mereka tentu bisa meningkat juga," kata Lana.
Sehingga, cepat atau lambat, pemberian kredit tanpa agunan dengan plafon yang lebih besar perlu dilakukan bank.
Menurut Lana, salah satu jalan lain adalah memberi asuransi kepada petani. Meski, sudah pernah diterapkan, namun jangkauannya perlu diperluas dan diperdalam.
Misal, khusus memberikan asuransi pada kredit yang diajukan petani. "Jadi, kalau gagal panen, asuransi yang tanggung. Itu mungkin bisa juga diterapkan untuk kredit kalau gagal bayar," pungkasnya.
“Mekanisme pembiayaan saat ini tidak sesuai agribisnis, apalagi saat ini Indonesia belum punya bank pertanian,” katanya.
Petani seringkali tak mendapatkan pembiayaan bank karena tak memiliki jaminan. (ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)