Ekonom: Daya Beli Masyarakat Tak Murni Turun

lav, CNN Indonesia | Kamis, 21/09/2017 03:18 WIB
Ekonom: Daya Beli Masyarakat Tak Murni Turun Tren masyarakat saat ini adalah mengurangi sektor konsumsi dan beralih untuk berinvestasi. (Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekonom dan Praktisi bisnis menilai daya beli masyarakat tak murni mengalami penurunan, melainkan hanya terjadi perubahan perilaku masyarakat yang menyebabkan peralihan ke elemen investasi yang juga mampu menopang pertumbuhan ekonomi.

Dalam Forum Diskusi Ekonomi Politik (FDEP), Ekonom Faisal Basri meyakini penurunan omzet dan laba sejumlah pelaku ritel modern tak bisa dijadikan acuan daya beli masyarakat yang menurun. Hanya saja, telah terjadi perubahan perilaku masyarakat dalam kegiatan konsumsi.

"Kalau dulu uang digunakan beli baju, sekarang untuk beli ponsel dengan kamera bagus untuk selfie di tempat bagus, berwisata", kata Faisal dalam keterangan tertulis, Rabu (20/9).



Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penjualan pakaian pada Lebaran 2017 menurun 15 persen. Berbagai tempat belanja juga digambarkan kosong.

Faisal menyebut tren masyarakat saat ini adalah mengurangi sektor konsumsi untuk berinvestasi.

CEO BNP Paribas Investment Partner Vivian Secakusuma menyampaikan hal senada. Menurut dia, tren investasi Indonesia saat ini justru meningkat pesat. Dia menyontohkan, portofolio reksa dana saat ini bukan hanya diminati kalangan atas, tetapi juga masyarakat menengah.

"Masyarakat yang muda-muda justru sudah banyak yang berinvestasi di reksadana. Mereka saat ini sudah lebih sadar pentingnya investasi," ungkapnya.


Vivian menjelaskan, investasi merupakan hal yang tepat dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Hanya saja, dalam berinvestasi perlu juga mengetahui tujuan pribadinya. Hal itu diperlukan untuk menentukan profil investasi dan jangka waktu investasi.

Aktor Baim membenarkan tren tersebut. Menurut dia, bisnis kuliner terus menunjukkan pertumbuhan kinerja. Dia merinci, pangsa pasar bisnis level atas kurang menarik, sementara bisnis di level menengah ke bawah justru berkembang pesat, terutama dari sisi volume.

"Saat ini pemasaran saya juga lebih bergerak ke arah online, dengan memanfaatkan Channel digital", tambah Baim.