Bulan lalu, BI menetapkan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bsp), setelah nyaris satu tahun lamanya menahan untuk tak mengerek BI-7DRRR.
Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede memproyeksi, BI tak akan melanjutkan pelonggaran moneter melalui pemangkasan suku bunga acuan bulan ini.
Sinyal normalisasi kebijakan The Fed terus menguat dalam rapat terakhir Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC meeting), di mana Gubernur The Fed Jenet Yellen mengatakan optimismenya terhadap perkembangan ekonomi dan kondisi pasar tenaga kerja AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain pengurangan neraca, pasar juga masih memperkirakan The Fed bakal sekali lagi menaikkan suku bunga acuannya (FFR) sebesar 25 bps pada tahun ini, dan tiga kali atau 75 bps secara akumulatif pada tahun depan.
Lihat juga:LPS Pangkas Bunga Penjaminan Rupiah 25 Bps |
Dari sisi internal, lanjutnya, BI diperkirakan masih mengevaluasi transmisi kebijakan moneter pada perekonomian setelah BI kembali memberikan kelonggaran pada bulan sebelumnya.
Senada dengan Josua, ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro juga meyakini, bank sentral menjaga suku bunga acuannya di level 4,5 persen.
“Kebijakan LTV spasial mendorong sektor properti lebih baik lagi. Sektor properti akan memengaruhi sekitar 160 subsektor lainnya, dan berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja," terang Andry.
Momentum Tepat Pangkas Bunga Acuan
Pandangan berbeda datang dari Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira. Ia memprediksi, bank sentral kembali memangkas bunga acuan sebesar 25 bsp menjadi 4,25 persen bulan ini.
“BI juga diprediksi ingin melanjutkan kebijakan pelonggaran moneter lebih jauh agar suku bunga kredit turun dan dorongan pemulihan ekonomi berjalan lebih cepat. Meskipun, transmisi penurunan kebijakan suku bunga baru terasa di awal 2018," jelas Bhima.
Menurut dia, fundamental ekonomi domestik masih cukup bagus untuk mendukung keputusan BI. Salah satunya, tercermin dari posisi cadangan devisa menyentuh rekor US$128,8 milyar pada bulan lalu.
Dari faktor eksternal, sambung dia, pertimbangan untuk menurunkan BI7DRRR berasal dari besarnya kemungkinan The Fed akan menahan FFR hingga akhir tahun ini setelah mendengar pidato Yellen dalam FOMC meeting bulan ini.
Data tenaga kerja dan inflasi AS masih belum sesuai ekspektasi The Fed. Kemudian, rencana perubahan balance sheet Fed yang dimulai Oktober diprediksi bertahap, sehingga efek kejutan ke pasar finansial Indonesia tidak mengganggu likuiditas.
Selain itu, meskipun risiko geopolitik di Korea masih memanas, AS sedang fokus dalam isu internal terutama paska badai Harvey dan Irma. Oleh karena itu, kuat dugaan BI bakal memanfaatkan ruang penurunan BI7DRRR pada bulan ini.
Sebagai informasi, BI bakal mengumumkan BI7DRRR September sore nanti, setelah Dewan Gubernur BI selesai menggelar rapat bulanan.