Analisis

Minim Efek Turunnya Bunga Acuan BI ke Bunga Kredit Konsumsi

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 28/09/2017 11:05 WIB
Kendati secara keseluruhan penurunan bunga kredit konsumsi lebih lambat, bunga KPR bisa lebih cepat turun karena risikonya lebih rendah seiring adanya jaminan. Kendati secara keseluruhan penurunan bunga kredit konsumsi lebih lambat, bunga KPR bisa lebih cepat turun karena risikonya lebih rendah seiring adanya jaminan. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) kembali memangkas suku bunga acuannya, BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR), sebesar 25 basis menjadi 4,25 persen pekan lalu. Melalui kebijakan ini, bank sentral berharap bisa mempercepat penurunan suku bunga kredit sehingga mendorong permintaan kredit masyarakat.

Dalam praktiknya, transmisi kebijakan moneter ke pasar memerlukan waktu. Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Dody Budi Waluyo beberapa waktu lalu menyebutkan, setidaknya perlu waktu sembilan hingga 12 bulan agar pemangkasan suku bunga acuan berdampak penuh pada penurunan suku bunga kredit.

Penurunan bunga acuan, paling cepat akan berdampak pada suku bunga pasar uang antar bank. Kemudian, baru pada turunnya bunga deposito. Melorotnya bunga deposito diterjemahkan sebagai turunnya biaya dana perbankan. Jika biaya dana turun, maka suku bunga kredit yang ditawarkan kepada nasabah bisa turun.

Sayangnya, suku bunga perbankan tidak hanya dipengaruhi oleh biaya dana, tetapi juga faktor lain seperti risiko kredit. Semakin tinggi risiko kredit, semakin tinggi bank akan mengenakan bunga pada nasabah. Hal inilah yang menyebabkan, mengapa suku bunga kredit konsumsi, cenderung lebih tinggi dibandingkan suku bunga kredit investasi maupun kredit modal kerja.

Hal ini lah yang membuat transmisi turunnya suku bunga acuan juga lebih lama ke penurunan suku bunga kredit konsumsi.
Minim Efek Pemangkasan Bunga Acuan BI ke Bunga Kredit KonsumsPerkembangan Suku Bunga Kredit (CNN Indonesia/Timothy Loen)
Beberapa jenis kredit konsumsi yang akrab di telinga masyarakat diantaranya Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Pemilikan Apartemen (KPA), Kredit Kendaraan Bermotor, dan pinjaman yang berasal dari transaksi kartu kredit.

"Kredit konsumsi risiko macetnya jauh lebih besar dari pada kredit modal kerja dan invetasi," tutur Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira kepada CNNIndonesia.com, akhir pekan lalu.

Risiko macet bisa tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL). Per Juli 2017, NPL kredit konsumsi mencapai 4,6 persen atau lebih tinggi dibandingkan rasio NPL kredit industri yang ada di kisaran 3 persen dan hampir mendekati batas aman OJK, 5 persen.

Tak ayal, rata-rata suku bunga kredit konsumsi per akhir Juli mencapai 13,15 persen atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata bunga kredit secara umum. Kabar baiknya, tren suku bunga kredit dalam dua tahun terakhir terus menurun seiring dengan penurunan suku bunga acuan BI. OJK mencatat, suku bunga kredit konsumsi pada awal Januari 2016 mencapai 13,94 persen.

Saat ini, lanjut Bhima, risiko kredit konsumsi juga bisa dihubungkan dengan lesunya konsumsi masyarakat. Oleh karena itu, Bhima memperkirakan transmisi turunnya BI7DRRR terhadap suku bunga kredit konsumsi bisa berlangsung hingga kuartal III 2018.

"Itu pun penurunannya (suku bunga kredit konsumsi) maksimal 25 hingga 35 bps,"ujar Bhima.

Namun demikian, lanjut Bhima, suku bunga kredit konsumsi KPR bisa lebih cepat turun mengingat KPR memiliki jaminan sehingga risikonya bisa ditekan. Per Juli 2017, rata-rata suku bunga KPR untuk rumah tinggal tercatat 10,28 persen, turun dari 106 bsp dibandingkan posisi Januari 2016, 11,34 persen. Seiring dengan turunnya suku bunga KPR, penyaluran KPR juga meningkat 13,7 persen dibandingkan posisi awal tahun lalu menjadi Rp370,29 triliun.

Pelaku industri juga meyakini suku bunga konsumsi bakal terus melanjutkan penurunan.

Direktur BRI Randi Anto mengungkapkan, perseroan terus menurunkan suku bunga kredit konsumsi secara bertahap seiring turunnya suku bunga acuan. Dampaknya, per Agustus 2017, penyaluran kredit konsumsi tumbuh 7,3 persen sepanjang tahun berjalan menjadi Rp164 triliun.

Khusus untuk KPR, lanjut Randi, rata-rata suku bunganya ada di kisaran 12 persen atau sudah turun 50 basis poin sejak akhir tahun lalu. Penyalurannya tumbuh 15 persen menjadi Rp 20,9 triliun.

"Suku bunga KPR yang fixed tiga tahun sudah bisa di sekitar 8,4 persen," terangnya.

Senada dengan Randi, Direktur PT Bank Mandiri Tardi juga mengkonfirmasi tren turun suku bunga kredit konsumsi perseroan. Sejak awal tahun, rata-rata suku bunga kredit KPR perseroan telah turun lebih dari 100 bps.

"Khusus untuk KPR, rata-rata suku bunganya sudah di kisaran 7 hingga 8 persen," ujarnya.

Ekonom PT Bank Cetral Asia David Sumual mengungkapkan, ke depan, tren penurunan suku bunga kredit konsumsi bakal berlanjut. Selain efek dari turunnya suku bunga acuan, semakin ketatnya persaingan antar bank di sektor kredit konsumsi juga bakal berpengaruh pada turunnya suku bunga untuk menjadi lebih kompetitif.