Atur Suku Bunga, BI Pantau Fed Rate dan Harga Komoditas

Yuliyanna Fauzi, CNN Indonesia | Jumat, 29/09/2017 10:19 WIB
Atur Suku Bunga, BI Pantau Fed Rate dan Harga Komoditas Bank Indonesia (BI) menyebut, suku bunga acuan AS (Fed Fund Rate/FFR) masih akan dinaikkan sebanyak satu kali pada Desember mendatang. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Bandung, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) menyebut, risiko kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve dan potensi jatuhnya harga komoditas masih menjadi tolak ukur tingkat suku bunga acuan BI (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR) beberapa bulan ke depan.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, dari sisi The Fed, suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) masih akan dinaikkan sebanyak satu kali pada Desember mendatang.

"The Fed akan naikkan suku bunga dan akan turunkan balance-nya," ujar Agus usai Rapat Koordinasi Pemerintah Pusat dan Daerah (Rakorpusda) BI, Rabu (27/9).



Sementara dari sisi harga komoditas, Agus bilang, BI melihat masih ada potensi harga akan jatuh, meski sepanjang bulan September ini indeks harga komoditas Indonesia tengah meningkat.

Catatan Agus, indeks meningkat sekitar 18 persen pada Agustus kemarin, namun pada September ini diperkirakan bisa meningkat hingga kisaran 20 persen.

"Ketika kami diskusikan, kami lihat masa depan pasar itu malah (harga) naiknya 20 persen. Jadi, dikoreksi dari 18 persen ke 20 persen," kata Agus.

Selain dua faktor utama itu, Agus mengatakan, BI melihat ekonomi domestik yang secara makro menunjukkan kondisi baik. Namun, secara riil kondisi yang ada masih membuat dunia usaha melakukan konsolidasi.

Secara makro, Agus mengklaim, ekonomi terjaga dengan tolak ukur stabilitas dan cadangan devisa yang berada pada posisi baik. Secara umum, neraca perdagangan juga mulai membaik, setelah sempat mengalami defisit pada Juli lalu.


"Investasi itu terus membaik, dan kami lihat konsumsi ada perbaikan. Kami juga lihat ada ekspor yang kembali membaik. Jadi, hal-hal ini diharapkan akan terus berjalan," terangnya.

Namun, dari sisi riil, beberapa korporasi dan perbankan masih berada di tingkat konsolidasi yang berkepanjangan. Meski, secara pendapatan dan tekanan pengeluaran sudah cukup pulih.

"Tetapi mereka banyak yang memperoleh ini dengan cara efisiensi, mengurangi tenaga kerja, penghematan, dan bukan disetir dari omzet yang lebih tinggi," jelasnya.