Adapun sampai pagi tadi, pergerakan rupiah telah menembus angka Rp13.483 per dolar AS atau terdepresiasi sekitar 0,33 persen dari penutupan perdagangan pada Rabu (27/9).
Ekonom PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Winang Budoyo mengatakan, pergerakan kurs rupiah yang meleset dari target pemerintah itu lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal dari AS. Sebab, Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan kebijakan pengurangan pajak bagi individu dan korporasi yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam membaik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bila kenaikan suku bunga acuan The Fed akan terus dijalankan, akibatnya rupiah melemah ke level Rp13.545 per dolar AS, yang berarti melemah sebesar 4,6 persen (yoy) atau minus 0,5 persen (ytd)," terang Winang dalam keterangan tertulis, Kamis (28/9).
Kendati begitu, Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede melihat, masih ada ruang bagi rupiah bersandar sesuai target pemerintah di angka Rp13.400 per dolar AS pada akhir 2017.
Namun, harapannya hanya pada pelemahan dolar AS. Sebab, sentimen yang bisa mendorong penguatan rupiah dari sisi domestik masih sangat minim.
Adapun pelemahan dolar AS, kata Josua, masih bisa terjadi bila ketegangan geopolitik di Semenjung Korea antara AS dan Korea Utara berlanjut.
"Semestinya bisa agak menguat karena ada faktor eksternal yang dominan, misal geopolitik AS-Korea Utara. Kemarin dolar AS sempat melemah karena itu. Jadi, bisa menghambat penguatan dolar AS," jelas Josua.
Namun, dari sisi domestik, pemerintah dan BI dirasa perlu terus berupaya menjaga laju inflasi agar tetap rendah. Sehingga, bisa mengimbangi rupiah bila terus melemah.