YLKI Sebut Penolakan Klaim Asuransi Jadi Aduan Terbesar

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Sabtu, 30/09/2017 11:40 WIB
YLKI Sebut Penolakan Klaim Asuransi Jadi Aduan Terbesar Pengaduan konsumen terikait bisnis asuransi menduduki peringkat ketujuh dari seluruh pengaduan yang diterima YLKI. Mayoritas, terkait dengan penolakan klaim(CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) meyebut pengaduan konsumen terkait bisnis asuransi menduduki peringkat ketujuh dari seluruh pengaduan yang diterima lembaga tersebut. Mayoritas, terkait dengan penolakan klaim.
Tahun ini saja, YLKI mengaku sudah menerima 32 laporan dari nasabah perusahaan asuransi. 

"Sekitar 53 persen dari pengaduan itu berasal dari klaim nasabah yang ditolak perusahaan asuransi," ujar Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi dalam suatu acara di Jakarta, Sabtu (30/9).

Tulus mengaku, banyak konsumen asuransi yang tidak memperoleh informasi seutuhnya terkait produk asuransi yang dibeli. Pasalnya, pemasaran asuransi sering kali dilakukan sekedar menjual produk tanpa memperhatikan keharusan untuk menjelaskan produk secara detail kepada calon konsumen. 


"Masalahnya konsumen paham nggak, kalau ikut asuransi nanti uangnya kembali atau tidak," ungkapnya.

Oleh karena itu, Ia pun meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat menertibkan pemasaran yang dilakukan industri asuransi di tanah air. "Idealnya, ketika konsumen ingin mengikuti asuransi ada pendampingan. Hal itu untuk menghindari kerugian karena tidak mengetahui produknya secara detail atau ada klausul perjanjian yang merugikan konsumen," ujarnya.

Tulus mengungkapkan, konsumen berhak mengajukan tuntutan baik secara perdata maupun pidana jika haknya dilanggar. Hal itu dijamin oleh Undang-undang Perlindungan Konsumen.

Terkait kasus sengketa nasabah dengan Perusahaan Asuransi Allianz yang mencuat baru-baru ini, Tulus menilai kasus itu perlu segera diselesaikan. Dengan demikian, produsen, jika benar terbukti melakukan pelanggaran, bisa mendapatkan efek jera.

Seperti diberitakan sebelumnya, Polda Metro Jaya melalui Direktorat Reserse dan Kriminal menetapkan eks Presiden Direktur PT Asuransi Allianz Life Indonesia, Joachim Wessling dan Manajer Claim PT Asuransi Allianz Life Indonesia Yuliana Firmansyah sebagai tersangka dugaan pelanggaran Undang-Undang (UU) Perlindungan Konsumen. 

Pihak Allianz diduga mempersulit proses pencairan klaim nasabah, Ifranius Algadri dengan menambah persyaratan yang tidak ada di buku polis. Salah satunya soal catatan medis dokter yang harus dikeluarkan rumah sakit.

Padahal, menurut Pasal 10 ayat 2 dan 3 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/Menkes/PER/III/2008 tentang Rekam Medis disebutkan, rekam medis hanya bisa dibuka untuk kepentingan kesehatan pasien dengan cara mengajukan permintaan tertulis kepada pimpinan rumah sakit.

Tulus mengingatkan UU Perlindungan Konsumen melarang praktik klausula baku atau pasal yang diselipkan sepihak di luar perjanjian sehingga merugikan pihak yang lain. Karenanya, jika hal itu terbukti, nasabah memang berhak mengajukan gugatan pidana berdasarkan UU Perlindungan Konsumen.

"Praktik klausula baku itu bisa dipidanakan semua," ujarnya. (agi/agi)