Analisis

Kecemasan Sri Mulyani Menular ke Saham Mitra Kerja PLN

Dinda Audriene Mutmainah, CNN Indonesia | Senin, 02/10/2017 12:06 WIB
Kecemasan Sri Mulyani Menular ke Saham Mitra Kerja PLN Rata-rata saham mitra kerja PLN di sektor konstruksi melorot, antara lain Wijaya Karya turun 2,98 persen dan Waskita Karya melorot 4,83 persen. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kecemasan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati terhadap keuangan PT PLN (Persero) agaknya menular ke pelaku pasar. Buktinya, pelaku pasar merespons negatif saham-saham emiten sektor konstruksi.

Seperti diketahui, dalam menjalankan proyek pembangunan pembangkit listrik, PLN mengajak sejumlah emiten konstruksi, utamanya perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Namun, seperti tertuang dalam surat Menkeu kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Menteri BUMN, serta manajemen PLN, keuangan perusahaan setrum pelat merah itu tertatih-tatih tercermin dari kinerja keuangannya.

Dengan perlambatan kinerja keuangan PLN, bukan tak mungkin terjadi keterlambatan pembayaran kepada mitra konstruksi. Terlebih, utang perseroan semakin menumpuk yang tak dibarengi dengan peningkatan kas bersih operasi.

Makanya, Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menyarakan agar perusahaan konstruksi kreatif dalam mencari pembiayaan. Karena, biaya pembangunan infrastruktur tidak cukup jika hanya mengandalkan dompet negara.

Dalam menjalankan proyek pembangunan pembangkit listrik, PLN mengajak sejumlah emiten konstruksi, utamanya perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). (CNN Indonesia/Fajrian).

"Jadi, mau tidak mau mereka gunakan kas sendiri, kas harus kuat," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, akhir pekan lalu.

Artinya, arus kas (cash flow) perusahaan konstruksi akan terganggu jika ada salah satu pembayaran yang tidak sesuai dengan kesepakatan atau jadwal di dalam kontrak.

Adapun, PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) menjadi salah satu emiten konstruksi yang bekerja sama dengan PLN. Mengacu dari laporan keuangan per semester I 2017, perusahaan memiliki piutang dari PLN untuk proyek pembangunan transmisi di Sumatra berkapasitas 500 kVA.

Proyek itu terdiri dari dua seksi yang masing-masing dengan nilai kontrak sebesar Rp3,53 triliun untuk seksi 1 dan seksi 2 sebesar Rp2,57 triliun. Waskita Karya memperoleh kontrak ini pada 23 Oktober 2015 silam. 

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) juga mengerjakan proyek PLN yang tercatat hingga laporan keuangan tengah tahun ini. Beberapa proyek tersebut, yakni pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Rengat 25 megawatt (MW) di Riau, Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Borang 2x30 MW, PTMG Rawa Minyak.

Sementara, Wijaya Karya memiliki piutang usaha dari PLN di beberapa pos piutang. Misalnya, piutang usaha pihak berelasi sebesar Rp58,84 miliar. 

Tak hanya itu, PLN juga masuk dalam piutang retensi pihak berelasi sebesar Rp8,64 miliar. Kemudian, perusahaan mencatat tagihan (kewajiban) bruto ke pemberi kerja atau PLN senilai Rp69,71 miliar.

Kondisi ini membuat harga saham emiten konstruksi anjlok sepanjang pekan lalu. Tak hanya Waskita Karya dan Wijaya Karya, tetapi juga PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI).

Berdasarkan catatan CNNIndonesia.com, harga saham PTPP anjlok hingga 7,96 persen menjadi Rp2.310 per saham dari sebelumnya Rp2.510 per saham. Kemudian, Waskita Karya melemah 4,82 persen menjadi Rp1.775 per saham.

Selanjutnya, Wijaya Karya ditutup ke level Rp1.790 per saham atau merosot 2,98 persen dari sebelumnya Rp1.845 per saham. Beruntung, harga saham Adhi Karya hanya turun tipis sebesar 0,99 persen.

Kepala Riset Trimegah Sekuritas Sebastian Tobing menuturkan, Waskita Karya memiliki piutang sebesar 10 persen dari pangsa pasarnya dan PTPP memiliki eksposur terbesar kedua.

"Wijaya Karya memiliki eksposur yang tidak berarti dan Adhi Karya tidak memiliki eksposur piutang," terang Sebastian dalam risetnya.



Pelaku Pasar Sempat Panik

Selain emiten sektor konstruksi, surat Sri Mulyani juga berdampak negatif pada harga saham tambang berbasis batu bara. Pelaku pasar khawatir pemerintah akan merestui penurunan harga batu bara yang dijual ke PLN.

Sekadar mengingatkan, pada awal bulan ini, PLN meminta pemerintah mengkaji ulang harga batu bara dalam negeri. Manajemen perseroan mengklaim, hal itu perlu dilakukan untuk menjamin pasokan untuk pembangkit listrik.

Larangan pemerintah untuk menaikkan tarif dasar listrik membuat PLN perlu memutar otak agar tidak mengalami kerugian ditengah kinerjanya yang juga sedang memburuk. PLN mengusulkan agar harga batu bara dibentuk berdasarkan biaya produksi batu bara yang ditambah dengan keuntungan (marjin).


Bila dicermati, harga emiten batu bara anjlok saat surat Sri Mulyani mulai mencuat sejak Selasa (26/9) hingga Rabu (27/9). (CNN Indonesia/Fajrian).

Namun, permintaan itu ditolak dengan tegas oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan pada akhir Kamis (28/9) pekan lalu. Mendengar berita tersebut, pelaku pasar pun ramai-ramai kembali masuk ke emiten batu bara dengan melakukan akumulasi beli.

"Penurunan yang kemarin sempat terjadi karena pelaku pasar panik, karena sebagian penjualan emiten batu bara ada yang ke PLN," kata Analis Oso Sekuritas Riska Afriani.

Bila dicermati, harga emiten batu bara anjlok saat surat Sri Mulyani mulai mencuat sejak Selasa (26/9) hingga Rabu (27/9). Dalam hal ini, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) merosot hingga 6,81 persen ke level Rp9.225 per saham.

Kemudian, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) melemah 2,33 persen menjadi Rp1.670 per sahan, PT Indika Energy Tbk (INDY) terkoreksi 2,75 persen ke level Rp1.945 per saham, termasuk PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) turun tipis 0,13 persen menjadi Rp18.725 per saham.

Selanjutnya, hampir seluruh harga saham emiten batu bara langsung bangkit (rebound) setelah skema penghitungan harga batu bara tidak mendapatkan restu Jonan. Alhasil, harga saham batu bara meningkat apabila dihitung dalam sepekan.

Tercatat, harga saham Bukit Asam meningkat hingga 4,76 persen, Adaro Energy naik 3,98 persen, dan Indo Tambangraya menanjak 3,84 persen. Cuma Indika Energy yang terkoreksi 3 persen. 

"Harga saham batu bara langsung naik lagi. Itu menggambarkan betapa sensitifnya suatu pemberitaan kepada harga saham,” imbuh Riska.

Padahal, sambung dia, harga batu bara saat ini tengah melemah menjadi sekitar US$90 per metrik ton dibandingkan dengan pekan sebelumnya yang masih di kisaran US$100 per metrik ton.

Sementara itu, Sebastian mengungkapkan, Bukit Asam menjadi emiten batu bara yang pendapatannya bergantung paling besar terhadap PLN. Setidaknya, Bukit Asam mengandalkan pendapatan dari PLN sebesar 60 persen.

Disusul oleh Adaro Energy dan Indika Energy yang memiliki porsi pendapatan dari PLN masing-masing sebesar 25 persen. Kemudian, PLN juga memiliki kontribusi terhadap pendapatan Indo Tambangraya sebesar 15 persen.

Proyeksi Saham Rebound

Untuk selanjutnya, harga saham emiten konstruksi berpeluang rebound secara teknikal lantaran harganya yang sudah terkoreksi cukup dalam. Namun, peluang itu kemungkinan besar hanya dalam jangka waktu satu hingga tiga hari atau jangka pendek.

"Kalau dilihat harga emiten konstruksi sudah jenuh jual (oversold). Kemudian, ketika harga saham dinilai rendah, maka banyak pelaku pasar cicil beli," tutur Riska.

Namun demikian, ia mengingatkan, pelaku pasar harus segera menjualnya kembali ketika harga saham sudah naik sekitar 3 persen-4 persen. Lalu, pelaku pasar dapat membelinya lagi ketika harga saham kembali turun.

"Ini karena posisi harga saham konstruksi masih dalam tren penurunan (down trend)," jelasnya.

Di sisi lain, Reza berpendapat, pelaku pasar tidak perlu merasa khawatir mengenai piutang emiten konstruksi dari PLN. Pasalnya, selama ini, belum ada pernyataan resmi dari mitra kerja PLN yang terlambat bayar atau merevisi waktu pembayaran dalam kontrak.

"Selama pembayaran PLN ke mitra kerja tidak ada masalah, maka sebenarnya tidak ada yang harus dipermasalahkan. Telat bayar itu kan baru indikasi," papar Reza.

Dengan begitu, ia optimistis, harga saham emiten dapat bergerak ke zona hijau pekan ini. Ditambah, bila Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat, maka harga saham konstruksi berpotensi mengekor.

"Kalau IHSG naik, kemudian harga saham konstruksi masih rendah, nanti sahamnya terbawa naik. Bisa ambil bagian," terang Reza.

Selain itu, ia juga menilai, harga saham emiten batu bara masih mampu melanjutkan penguatannya ditopang oleh penolakan Jonan terhadap skema pembentukan harga batu bara dari PLN.

"Apalagi, kalau harga batu bara bisa positif, itu akan menjadi sentimen positif tambahan" katanya.

Riska berpendapat lain. Menurut dia, beberapa emiten batu bara memiliki potensi terkoreksi karena aksi ambil untung (profit taking) oleh pelaku pasar. Hal ini khususnya terjadi pada Bukit Asam karena harganya yang sudah terlalu tinggi.

"Kemungkinan, ada profit taking jika Bukit Asam sudah menyentuh Rp10.475 per saham. Tapi, secara keseluruhan masih dalam tren kenaikan," pungkasnya.