Andry Asmoro, Ekonom Senior Bank Mandiri mengungkapkan, setiap penurunan pertumbuhan ekonomi di China sebesar 0,1 persen, maka pengaruhnya untuk Indonesia mencapai 0,11 persen.
Sementara, ekonomi Indonesia akan terkena dampak sebesar 0,5 persen dari setiap penurunan ekonomi Amerika Serikat (AS) sebesar 0,1 persen.
Lihat juga:Indeks Kepercayaan Konsumen Warnai Laju IHSG |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi, kalau waktu itu sempat (hampir) Rp13.600 per dolar AS, indikator utamanya kepada faktor eksternal, inflasi domestik September cukup baik 0,13 persen," ujarnya, Rabu (4/10).
Lebih rinci, pada 25 September 2017 nilai tukar rupiah masih berada di level Rp13.325 per dolar AS. Angka itu terus melemah hingga ke level Rp13.515 per dolar AS pada 28 September 2017.
Namun demikian, pergerakan nilai tukar rupiah kembali menguat 65 poin atau 0,48 persen pada perdagangan kemarin, Rabu (4/10), sehingga kembali ke level Rp13.477 per dolar AS.
Ia menambahkan, kondisi ekonomi Indonesia kini lebih dipengaruhi oleh AS dibandingkan dengan sebelumnya yang lebih dipengaruhi oleh China dan India. Sementara, Bank Dunia memprediksi tingkat pertumbuhan ekonomi AS cenderung stagnan.
"Mungkin ini yang menimbulkan pasar bereaksi, lalu juga kebijakan rencana kenaikan suku bunga The Fed. Jadi, mungkin kenaikan suku bunga The Fed akan tertahan sampai dengan 2018," pungkas Andry.