Daftar Hitam Asuransi untuk Redam Kecurangan

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Kamis, 12/10/2017 13:45 WIB
Daftar Hitam Asuransi untuk Redam Kecurangan Tak ubahnya BI Checking di industri perbankan, sistem pemeriksaan asuransi yang ada nantinya akan mengetahui riwayat klaim melalui AAUI Checking. (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menggagas daftar hitam atau negatif nasabah untuk mengurangi kecurangan (fraud) dalam praktik usaha perasuransian.

Tak ubahnya Bank Indonesia (BI) Checking di industri perbankan, sistem pemeriksaan asuransi juga akan mengetahui riwayat klaim melalui AAUI Checking. Bedanya, sistem yang dibangun AAUI ini murni inisiasi pelaku usaha dan bukan sistem resmi dari regulator.

Ketua Umum AAUI Dadang Sukresna mengungkapkan, AAUI checking ini sudah dibangun 2-3 tahun belakangan untuk komunikasi antar anggota mengetahui calon nasabah atau perilaku nasabah. “Kami minta anggota kontribusi semua untuk melaporkan setiap kejadian atau dugaan fraud,” ujarnya di Nusa Dua, Bali, Kamis (12/10).


Kecurangan di industri asuransi umum kerap terjadi di segmen bisnis asuransi marine cargo, marine hull, kebakaran, kendaraan bermotor, termasuk kesehatan.

Umumnya, modus yang digunakan untuk melancarkan aksi kecurangan adalah terkait rekayasa klaim, pemalsuan polis, hingga kongkalikong antara nasabah dengan salah satu pihak internal perusahaan demi pencairan klaim.

“Selama ini, kecurangan atau kejahatan asuransi tidak pernah dicatat. Banyak yang jumlah klaimnya kecil-kecil, seperti asuransi kendaraan bermotor. Kerja sama antara bengkel dengan internal atau nasabah,” terang Dadang.

Menurut Direktur PT Jasindo (Persero) Sahata L Tobing, perkembangan teknologi dan dinamisnya perilaku masyarakat harus diadaptasi dengan cepat oleh pelaku usaha asuransi, termasuk mengubah cara komunikasi dengan masyarakat.

“Industri asuransi sangat hati-hati menolak klaim. Di sisi lain, masyarakat maunya kan cepat. Kalau belum ada kabar, langsung ditunjuk perusahaan asuransinya nggak mau bayar. Ini yang perlu dibenahi, komunikasinya dan pendekatannya,” katanya.

Pernyataan Sahata tersebut sekaligus merujuk dengan beberapa kasus asuransi yang marak belakangan ini dilaporkan sebagai tindak pidana pelanggaran perlindungan konsumen.

Baru-baru ini PT Asuransi Allianz Utama Indonesia dilaporkan ke Bareskrim oleh Mariana, pemilik toko elektronik di Pekanbaru, Riau. Direktur Utama Allianz Utama Wiyono Kurniawan Sutioso dilaporkan dengan tuduhan tindak pidana perlindungan konsumen.

Kasus ini cuma berselang 1-2 pekan setelah tuduhan serupa dilayangkan ke mantan Direktur Utama Allianz Life Joachim Wessling untuk asuransi cash plan nasabahnya.