Sektor Infrastruktur Kerek Kredit BNI Tumbuh 13,3 Persen

Yuliyanna Fauzi , CNN Indonesia | Kamis, 12/10/2017 19:21 WIB
Sektor Infrastruktur Kerek Kredit BNI Tumbuh 13,3 Persen
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI kembali menorehkan angka pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan di industri perbankan.

Tercatat, kredit tumbuh 13,3 persen pada kuartal III 2017 dari periode yang sama di tahun sebelumnya. Sementara, rata-rata industri hanya tumbuh 8,2 persen per Juli lalu.

Secara nominal, penyaluran kredit mencapai Rp421,41 triliun pada kuartal III 2017. Sedangkan dalam periode yang sama tahun lalu, hanya mencapai Rp372,02 triliun.

Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta menyatakan, pertumbuhan kredit dirangsang oleh banyaknya kucuran pembiayaan ke proyek-proyek infrastruktur, khususnya yang diberikan ke sektor korporasi dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).


"Kenapa bisa 13,3 persen? Ini karena kami berikan untuk infrastruktur sampai 2017, tapi targetnya masih terus bertahap sampai 2018-2019," ujar Herry di Wisma BNI, Kamis (12/10).

Selain ditopang banyaknya proyek infrastruktur, Herry mengaku, perusahaan juga kian selektif memberikan kredit ke sektor industri yang risikonya lebih rendah dan cenderung terkontrol, seperti pertanian dan perkebunan. Kemudian, juga memperluas potensi pasar dan mencari potensi debitur lain, termasuk ke sektor berisiko, seperti pertambangan.

Alhasil, penyaluran kredit BNI ke sektor business banking mencapai Rp329,75 triliun atau sekitar 78,3 persen dari total kredit. Angka tersebut tumbuh 13,9 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp289,47 triliun.

Kredit business banking terbagi atas kredit ke segmen korporasi sekitar 23,6 persen, kredit ke BUMN 19,4 persen, segmen menengah 16,1 persen, dan segmen usaha mikro 12,8 persen.

Khusus untuk segmen menengah dan mikro, perusahaan memperketat pengawasan (monitoring) pengembalian kredit dan mengoptimalkan jaringan melalui penetapan outlet sebagai kantor cabang penuh, serta fokus memberikan Kredit Usaha Rakyat (KUR).


Sementara, penyaluran kredit bisnis konsumer mencapai Rp68,53 triliun atau sekitar 16,3 persen dari total kredit. Realisasi ini tumbuh sekitar 9,2 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp62,73 triliun.

Untuk segmen ini, Herry menilai bakal dicapai dengan cara mengoptimalisasi potensi pembiayaan melalui produk payroll nasabah dari debitur institusi dan melakukan penjualan silang. Penyaluran kredit lebih banyak ke program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang disebut BNI Griya, kartu kredit, dan Fleksi.

Untuk kuartal IV 2017 hingga tahun depan, Herry optimistis pertumbuhan kredit tetap akan stabil. Bahkan, berpotensi lebih baik lagi dari rata-rata kredit industri. Caranya, dengan terus memantau pergerakan ekonomi ke depan dan sektor penyaluran kredit yang potensial.

"Selain infrastruktur, sekarang harga komoditas sudah mulai membaik, misalnya dengan melihat harga batubara yang prospektif lagi. Saya yakin akan lebih baik," katanya.

Kredit Macet Menipis

Tak hanya pertumbuhan kredit yang memuaskan pada kuartal lalu, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) perbankan pelat merah itu rupanya juga mampu menipis, mendekati target akhir tahun.


Direktur Keuangan BNI Rico Budidarmo mengatakan, NPL gross berada di angka 2,75 persen pada kuartal III 2017, lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,1 persen. Meski, dari sisi NPL nett lebih tinggi sedikit, dari 0,7 persen pada tahun lalu menjadi 0,8 persen.

"NPL lebih positif ini terlihat dari perbaikan kemampuan masyarakat dalam membayarkan kewajiban kreditnya, dari beberapa segmen," kata Rico pada kesempatan yang sama.

Sampai akhir tahun ini, BNI menargetkan NPL mampu finis di angka 2,5 persen atau di bawah batas yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar 3 persen.