Bank Indonesia Tebas Suku Bunga Acuan jadi 4,25 Persen

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 22/09/2017 20:46 WIB
Bank Indonesia Tebas Suku Bunga Acuan jadi 4,25 Persen Bank Indonesia (BI) mengungkapkan pelonggaran moneter itu tersebut konsisten dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong intermediasi perbankan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) kembali memangkas suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,25 persen pada September 2017.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Dody Budi Waluyo mengungkapkan pelonggaran moneter itu tersebut konsisten dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong intermediasi perbankan.

"Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan untuk menurunkan BI 7DRRR sebesar 25 bps menjadi 4,25 persen, dengan suku bunga deposit facility turun 25 bsp menjadi 3,5 persen, dan suku bunga lending facility turun 25 bsp menjadi 5 persen, berlaku efektif sejak 25 September 2017," tutur Dody dalam konferensi pers di Gedung Thamrin BI, Kamis (18/4).



Dody mengungkapkan keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan perkembangan faktor domestik maupun eksternal.

Dari sisi domestik, BI melihat terjaganya tingkat inflasi, sesuai target BI tahun ini 4 plus minus 1 persen maupun 3,5 plus minus satu persen untuk tahun depan. Tingkat harga Agustus 2017 tercatat deflasi sebesar minus 0,07 persen dengan inflasi tahun kalender sebesar 2,53 persen dan secara tahunan sebesar 3,82 persen.

"Ke depan, BI akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah agar inflasi bisa mencapai sasaran 4 plus minus 1 persen," ujar Dodi.

Selain itu, BI juga mempertimbangkan perkembangan ekonomi domestik yang terus membaik yang ditopang oleh konsumsi dan investasi. Hingga akhir tahun, ekonomi 2017 diperkirakan bakal tumbuh di kisaran 5 hingga 5,4 persen.

Neraca pembayaran Indonesia juga mencatat surplus dengan defisit transaksi berjalan yang terjaga. Neraca perdagangan per Agustus 2017 mencatat surplus US$1,72 miliar yang didukung oleh surplus neraca perdagangan nonmigas.

Aliran modal masuk yang kencang per akhir Agustus 2017 hingga mencapai US$9,17 miliar mendorong posisi cadangan devisa (cadev) pada periode yang sama mencapai US$128,8 miliar atau naik sekitar 0,86 persen dibandingkan dengan posisi akhir Juli 2017, US$127,8 miliar. Posisi cadev itu setara dengan 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.


Dari sisi eksternal, BI menilai pertumbuhan ekonomi global membaik. Hal itu terlihat dari perkembangan ekonomi di Amerika Serikat (AS), China, dan Eropa.

Kendati demikian, BI masih mewaspadai risiko pasar global yang di antaranya dipicu oleh kelanjutan rencana kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS.

Sebelumnya, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira telah memprediksi BI bakal memangkas BI7DRRR sebesar 25 bps menjadi 4,25 persen bulan ini. Hal ini dilakukan setelah tekanan terhadap rupiah cenderung berkurang dan inflasi bulan Agutus justru mencatat deflasi sebesar 0,07 persen.

"Bank Indonesia juga diprediksi ingin melanjutkan kebijakan pelonggaran moneter lebih jauh agar suku bunga kredit turun dan dorongan pemulihan ekonomi berjalan lebih cepat, meskipun transmisi penurunan kebijakan suku bunga baru terasa di awal 2018," jelas Bhima. (gir/gir)