Aktif e-Toll, Jasa Marga Tak PHK 1.300 Karyawan

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Sabtu, 14/10/2017 14:10 WIB
Aktif e-Toll, Jasa Marga Tak PHK 1.300 Karyawan Di antaranya 900 posisi telah disiapkan untuk 900 mantan penjaga gardu tol, sedangkan 400 lainnya disiapkan untuk menjadi wirausaha binaan Jasa Marga. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Jasa Marga (Persero) Tbk berencana mengalih-profesikan sekitar 1.300 karyawannya dari sebelumnya, yaitu penjaga gardu tol, menjadi pegawai kantoran di kantor pusat dan cabang, termasuk anak usaha.

Upaya ini ditempuh dalam rangka pemberlakuan gerbang tol otomatis (e-toll) dan kebijakan yang memaksa pengguna tol untuk bertransaksi non-tunai.

Kushartanto Koeswiranto, Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) dan Umum Jasa Marga mengungkapkan, perseroan tak ingin mengambil langkah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).


"Jasa Marga tidak ada PHK. Karyawan yang bekerja saat ini disalurkan ke induk dan anak perusahaan," ujarnya di Kantor Pusat Jasa Marga, Jumat (13/10).

Program alih profesi akan mulai diterapkan pada Senin (16/10) nanti, diawali dengan pendidikan dan pelatihan (diklat) kompetensi karyawan dari Jasa Marga Learning Institute (JMLI), sesuai dengan minat yang dipilih.

Namun, untuk tahap awal, diklat cuma menawarkan sebanyak 900 posisi baru bagi karyawan gardu tol. Sisanya 400 karyawan lainnya masih bisa memilih opsi menjadi wirausaha yang dibina oleh perseroan.

Beruntung, meski diklat baru dimulai pada pekan depan dan karyawan belum bekerja penuh pada posisi barunya, perseroan tetap menggaji, seperti yang semula didapat saat mengisi posisi penjaga gardu tol.

Apabila karyawan yang bersangkutan sudah efektif bekerja di posisi baru, maka akan ada penyesuaian gaji sesuai dengan jabatan.

Adapun, untuk 900 posisi yang ditawarkan, perseroan telah membuat satu aplikasi dalam jaringan (online) agar karyawan dapat mendaftar dengan mudah dan cepat sesuai bidang yang diminati.

"Ada aplikasi online, tinggal masukkan nama dan nomor pengenal. Nanti muncul posisi yang ditawarkan, posisinya apa, tugasnya apa. Kalau dia mau di situ, tinggal klik, nanti terdaftar, tinggal ikut pelatihannya," jelas Kus.

Beberapa posisi baru yang ditawarkan, antara lain bagian adminstrasi perusahaan, pelayanan pelanggan, administrasi pengolah aset, serta pengolah data.

Sementara, karyawan yang tak ingin beralih profesi ke kantor cabang, kantor pusat, maupun anak usaha, operator jalan tol tersebut juga menyediakan pembinaan wirausaha.

Kus bilang, nantinya para karyawan yang ingin berusaha akan diberikan tunjangan selayaknya pengakhiran kerja, termasuk juga mendapatkan permodalan untuk memulai usahanya.

Sayangnya, ia masih enggan berbagi berapa jumlah modal per kepala hingga kumulatif yang disiapkan perusahan pelat merah itu.

"Kami punya beberapa ruas tol, di situ ada ruang istirahat (rest area). Nah, mereka bisa menempati kios-kios itu untuk memulai usahanya. Saat ini, masih kami hitung," katanya.

Selain itu, masih akan ada diklat gelombang selanjutnya, menyusul peningkatan kebutuhan SDM untuk ruas-ruas jalan tol baru yang akan beroperasi pada tahun depan. 

Sayang, Kus enggan menjelaskan bagaimana nasib pekerja kontrak (outsourcing) yang terdampak dari kebijakan pembayaran non tunai di gardu tol ini. Padahal, sebelumnya, ia bilang, beberapa di antara 1.300 karyawan itu merupakan pekerja kontrak. 

Sementara, Ketua Umum Serikat Pekerja Jasa Marga (SPJM) Muhammad Kusnadi mengatakan, saat ini ada sekitar 4.257 karyawan yang tergabung dalam serikat. Namun, memang yang terdampak oleh kebijakan ini hanya sekitar 1.300 karyawan. 

SPJM mengaku, tak khawatir dengan masa depan karyawan perusahaan pelat merah itu. "Jadi, memang kami, SPJM berusaha dengan manajemen agar teman-teman pekerja yang terdampak tetap bisa eksis," imbuh dia.

Ketua Federasi Serikat Pekerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Ahmad Irfan Nasution mengaku mendukung program ini. Toh, program alih profesi tak hanya menjamin kelangsungan hidup karyawan, tapi juga memberi peningkatan jabatan bagi para karyawan. 

"Ini sangat jarang terjadi di BUMN. Apalagi, di swasta. Lalu, ini bukan hanya alih profesi, tapi juga peningkatan jabatan dari yang semula hanya menunggu gerbang tol, kini bisa belajar hal lain. Ini memberi mereka kesempatan," katanya. 

588 Karyawan Daftar Alih Profesi

Bersamaan dengan program alih profesi ini, Kus bilang, sekitar 588 karyawan telah mendaftar melalui aplikasi online. Namun, perseroan masih menunggu hingga seluruh karyawan benar-benar mendaftar.

"Sudah ada 588 karyawan yang mendaftar di posisi yang kami berikan. Tapi, masih kami tunggu, bahkan yang masih mau komunikasi dengan keluarga, juga kami tunggu," terang dia.

Sementara, bagi karyawan yang belum mendaftar sampai hari dimulainya diklat, perseroan berkomitmen membantu mengarahkan sesuai dengan kompetensi dan peminatan yang diinginkan.

Sayang, Kus masih belum bisa membeberkan posisi mana saja yang banyak diminati dan sudah terisi, serta mana yang masih minim minat dari para karyawan yang akan beralih profesi itu.