Analisis

Ancang-ancang Holding BUMN Taklukkan Saham Freeport

Agustiyanti, CNN Indonesia | Senin, 30/10/2017 16:03 WIB
Ancang-ancang Holding BUMN Taklukkan Saham Freeport Holding BUMN Tambang bakal resmi beroperasi pada akhir bulan depan dan diharapkan bakal mengeksekusi divestasi saham Freeport. (REUTERS/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) bakal resmi menjadi induk usaha (holding) BUMN tambang dan membawahi PT AnekaTambang Tbk, PT Timah Tbk, dan PT Bukit Asam Tbk pada akhir bulan depan. Bergabungnya seluruh perusahaan tambang milik BUMN tersebut diharapkan akan meningkatkan kemampuan BUMN guna menguasai kepemilikan saham mayoritas pada PT Freeport Indonesia.

Pemerintah sendiri menargetkan dapat menyelesaikan proses pengambilalihan sisa saham Freeport hingga negara memiliki 51 persen melalui BUMN paling lambat pada kuartal pertama tahun ini. Namun, hingga kini, proses negosiasi harga sisa saham yang akan divestasi Freeport tersebut masih alot.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya mengestimasi, nilai saham Freeport-McMoran mencapai US$20,74 miliar di bursa saham New York. Dari nilai itu, Freeport Indonesia menyumbang sekitar 40 persen atau sekitar US$8,29 miliar atau setara Rp112 trilun (berdasarkan kurs rupiah Rp13.500 per dolar AS).


Saat ini, negara sudah memiliki 9,36 persen saham Freeport, sehingga pemerintah perlu mengucurkan sekitar US$3,45 miliar atau setara Rp46,57 triliun untuk menyerap sisa saham Freeport sebesar 41,64 persen.

Sementara itu, CEO Freeport-McMoRan Inc. Richard C. Adkerson dalam laporan kuartal ketiga Freeport menyebut, pihaknya saat ini masih melakukan negosiasi dengan pemerintah Indonesia terkait harga saham tersebut. Namun, keduanya sepakat untuk menggunakan harga saham yang adil sesuai pasar.

Berbeda dengan estimasi Jonan, Adkerson menyebut, Freeport Indonesia saat ini bernilai sekitar US$ 13 miliar atau setara Rp175,5 triliun. Dengan demikian, harga sisa saham Freeport yang akan didivestasi versi Adkerson mencapai US$5,41 miliar atau setara Rp73,08 triliun.
Menteri ESDM Ignasius Jonan bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Chief Executive Officer (CEO) Freeport-McMoran Richard Adkerson berbincang sebelum memberikan keterangan di Kementerian ESDM. Menteri ESDM Ignasius Jonan bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Chief Executive Officer (CEO) Freeport-McMoran Richard Adkerson berbincang sebelum memaparkan hasil negosiasi antara pemerintah dan Freeport.  CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin mengaku, pihaknya siap mengambil alih sisa saham yang akan didivestasi Freeport pasca mulai beroperasinya holding BUMN tambang. Rencananya, holding BUMN tambang akan resmi terbentuk pada pekan kedua November mendatang melalui penerbitan Peraturan Pemerintah (PP).

Kemudian, pada 29 November mendatang, PT Aneka Tambang Tbk, PT Timah Tbk, dan PT Bukit Asam Tbk bakal menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). RUPSLB digelar guna mengalihkan saham pemerintah di BUMN-BUMN tersebut ke Inalum. Dengan demikian, pada akhir bulan depan, Inalum selaku holding BUMN tambang akan resmi menaungi ketiga BUMN tersebut.

"Setelah itu tentu kemampuan keuangan holding BUMN tambang akan semakin besar. Kami siap untuk akuisisi (saham Freeport)," ujar Budi di Jakarta, Jumat malam (30/10).

Budi mengaku, seperti yang disebutkan Menteri BUMN Rini Soemarno, nantinya sebagian besar dana akuisisi saham Freeport akan berasal dari perbankan. Sesuai kebijakan perbankan, biasanya pinjaman bank akan mengambil porsi 70 persen, sedangkan sisanya 30 persen dipenuhi dari kas internal perusahaan.

Budi pun memastikan holding BUMN tambang mampu memenuhi 30 persen kebutuhan kas internal guna mengambilalih saham Freeport.

"Kas inalum saja sekarang sekitar US$500 juta (sekitar Rp6,75 triliun dengan asumsi nilai tukar Rp13.500 per dolar AS). Kemudian Antam punya kas sekitar Rp6 triliun, belum yang lainnya saya nggak hapal," terang Budi.

Berdasarkan laporan publikasi ketiga BUMN tambang per kuartal kedua tahun ini, kas atau setara kas ketiga BUMN tersebut tercatat sebesar Rp10,01 triliun. Jumlah tersebut sebenarnya sudah turun dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp12,29 triliun.

Hingga kuartal II, kas Antam tercatat sebesar Rp6,38 trilun, PTBA sebesar Rp2,82 triliun, dan Timah Rp810,4 miliar. Dengan demikian, total kas ketiga BUMN ditambah Inalum diperkirakan mencapai sekitar Rp16,25 triliun.

Adapun kebutuhan 30 persen kas internal untuk membeli saham Freeport jika harganya sesuai estimasi Jonan sebesar US$3,45 miliar atau Rp46,57 triliun adalah sekitar Rp14,02 triliun. Sedangkan jika harganya sesuai estimasi Anderson, maka BUMN tambang membutuhkan kas internal sekitar Rp22 triliun.

"Berapa nanti valuasinya? Kami ikut pemerintah saja, karena kami kan hanya pelaksana," terang Budi.
Negosiasi harga divestasi saham Freeport saat ini masih dilakukan Pemerintah dan Freeport.Negosiasi harga divestasi saham Freeport saat ini masih dilakukan Pemerintah dan Freeport. (dok. Freeport).
Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan menjelaskan, penyatuan ketiga emiten BUMN tambang dibawah Inalum selaku holding BUMN tambang akan membuat BUMN memiliki kemampuan untuk mengakuisisi sisa saham yang akan didivestasi Freeport. 

"Mungkin ketiga emiten ini kalau digabungkan asetnya bisa mencapai sekitar Rp70 triliun hingga Rp80 triliun. Artinya, kemampuan mengakuisisi Freeport akan meyakinkan," ujar Alfred kepada CNNIndonesia.com, Senin (30/10).

Alfred pun menghitung, dengan rasio utang terhadap modal (debt to equity) sebesar 1,5 hingga 2,5 kali saja, kemampuan meminjam tiga emiten BUMN tambang di luar Inalum saja kepada perbankan saat ini dapat mencapai sekitar Rp30 trilun hingga Rp50 triliun.

Total modal ketiga BUMN tambang tersebut per kuartal II lalu jika dijumlahkan mencapai Rp35,5 triliun. Sedangkan total asetnya mencapai Rp59 triliun.

Untung Rugi
Menurut Alfred, pembentukan holding tentu akan memberikan nilai tambah bagi ketiga emiten BUMN tambang. Pembelian saham Freeport, kendati menggunakan dana perbankan, juga diyakini Alfred akan menghasilkan keuntungan.

"Memang selama ini, informasi Freeport ini kan tidak jelas, berapa usia tambangnya misalnya dan sebagainya. Tapi Freeport ini kan aset yang sudah menghasilkan. Jadi, sama seperti ketika Medco mengakuisisi Newmont dengan menggunakan dana bank," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang menilai, pemerintah perlu menimbang lagi untung rugi akuisisi saham Freeport oleh holding BUMN tambang.

Menurut dia, selain akuisis saham Freeport, tiga BUMN tambang juga memiliki kebutuhan guna membangun infrastruktur di sektor tambangan. Untuk itu, ia pun menilai, ketimbang mengeluarkan dana besar untuk akuisisi Freeport, pemerintah sebaiknya fokus menyiapkan dana untuk pembangunan infrastruktur yang membutuhkan dana besar.

"Kalaupun uang mereka (holding BUMN tambang) untuk beli saham Freeport cukup, tapi kan mereka butuh belanja modal untuk proyek-proyek mereka. Mereka kan punya rencana-rencana untuk proyeknya sendiri," terang Edwin.

Baik Alfred maupun Edwin merekomendasikan beli untuk saham PTBA dan Timah seiring kinerja kedua perusahaan yang kinclong pada sepanjang tahun ini. Namun, keduanya merekomendasikan untuk menahan (hold) saham Antam.

"Antam ini, investor melihat bagaimana pengalihan dari bisnis emas ke feronikel yang sedang diperbesar. Emas kan ada penurunan, karena itu kami rekomendasikan hold," tambah Edwin.