MAP Akui Kenaikan Upah Berdampak Negatif pada Usaha Ritel

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Rabu, 01/11/2017 17:01 WIB
MAP Akui Kenaikan Upah Berdampak Negatif pada Usaha Ritel PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) mengakui kenaikan upah minimum provinsi (UMP) sebesar 8,71 persen tahun depan bakal mempengaruhi kinerja di industri ritel. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) mengakui kenaikan upah minimum provinsi (UMP) sebesar 8,71 persen tahun depan bakal mempengaruhi kinerja di industri ritel secara umum, karena beban gaji karyawan merupakan komponen terbesar dari total biaya operasional perusahaan ritel.

"Tentu besarnya kenaikan UMP setiap tahun akan mempengaruhi bisnis ritel," terang Head of Corporate Communication MAPI Fetty Kwartati kepada CNNIndonesia.com, Rabu (1/11).

Dari sudut pandang industri ritel secara keseluruhan, ujar Fetty, kenaikan UMP ini bisa mengakibatkan perusahaan ritel tidak menambah karyawan baru, bahkan bisa terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) demi menekan biaya operasional.



"(Untuk MAPI) tidak ada rencana pengurangan karyawan," imbuh Fetty.

Seperti diketahui, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri telah merilis surat edaran yang ditujukan kepada Gubernur mengenai data inflasi dan pertumbuhan ekonomi untuk dijadikan bahan dasar penetapan UMP tahun 2018.

Dengan kata lain, angka kenaikan UMP sebesar 8,71 persen berasal dari data ekonomi makro Indonesia, di mana data pertumbuhan ekonomi sebesar 4,99 persen dan inflasi 3,72 persen berdasarkan surat Kepala Badan Pusat Statistik (BPS).

Sementara itu, Sekjen Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin berpandangan, kenaikan UMP untuk karyawan seharusnya bisa membuat perusahaan lebih kreatif dan berinovasi agar tetap menghasilkan kinerja positif.

"Harus lebih memiliki inovasi-inovasi untuk menekan beban peningkatan UMP ini," ujar pria yang juga menjabat sebagai Corporate Affairs Director PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk itu.



Khusus di Alfamart , jelas Solihin, biaya gaji karyawan memang berkontribusi tinggi mencapai sekitar 49,1 persen dari seluruh biaya operasional perusahaan. Untuk itu, perusahaan perlu memutar otak agar kesejahteraan karyawan bisa tetap diberikan.

"Kalau perusahaan mau survive harus berinovasi juga dengan efisiensi-efisiensi dalam bentuk apapun. Jadi jangan malah biaya untuk karyawan dikurangi," papar Solihin.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) bidang Ketenagakerjaan Harijanto menyebut, industri ritel akan kembali didera sentimen negatif dari kenaikan UMP tersebut. Masalahnya, bisnis ritel sendiri hanya tumbuh 3,7 persen hingga enam bulan pertama tahun 2017. Kondisi itu berbanding jauh dari pertumbuhan semester I 2016 yang mencapai double digit.

"Meski kenaikan sebesar 8,71 persen dianggap berat, ya kami harus menerima. Namun, kami takutkan saja PHK makin banyak. Yang sudah pasti kena imbas adalah ritel karena persaingan dengan bealnja online dan lain-lain,” terang Harijanto, kemarin.