Jelang Tutup Tahun, Setoran Bea Cukai Baru Capai 63 Persen

Dinda Audriene Muthmainah , CNN Indonesia | Rabu, 08/11/2017 17:20 WIB
Jelang Tutup Tahun, Setoran Bea Cukai Baru Capai 63 Persen Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mencatat, penerimaan bea dan cukai hingga 7 November 2017 baru mencapai 62,76 persen dari target tahun ini. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat, penerimaan bea dan cukai hingga 7 November 2017 baru mencapai 62,76 persen dari target tahun ini. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) penerimaan dari bea dan cukai dipatok sebesar Rp189,1 triliun.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu Heru Pambudi mengatakan, penerimaan tersebut setara dengan Rp130 triliun. Penerimaan tersebut, terdiri dari cukai Rp98,4 triliun, bea masuk sebesar Rp28,5 triliun, dan bea keluar Rp3,1 triliun.

Sementara, untuk targetnya sendiri hingga akhir tahun, penerimaan bea masuk ditargetkan mencapai Rp33,2 triliun, cukai Rp153,1 triliun, dan bea keluar Rp2,7 triliun. Artinya, khusus penerimaan bea keluar sudah lebih dari yang diharapkan.


Meski DJBC hanya memiliki waktu sekitar 1,5 bulan untuk mencapai target, Heru tetap optimis penerimaan bea dan cukai akan sesuai dengan yang diharapkan karena diprediksi ada lonjakan penerimaan pada bulan Desember.

"Tipikal atau pola penerimaan bea dan cukai sejak dua tahun terakhir akan melonjak di bulan ke 12, kami upayakan sesuai target dengan cara menggempur yang ilegal ini," papar Heru, Rabu (8/11).

Lebih lanjut ia mengatakan, pihaknya berharap agar pabrik legal bisa menaikkan produksinya agar ada tambahan pembayaran. Untuk bea masuk, Heru masih optimis tercapai karena didukung oleh peningkatan impor.

"Maka kami yakin target Rp33,2 triliun bisa, bahkan lebih," imbuhnya.

Sementara itu, pencapaian penerimaan bea keluar yang telah melebihi target sendiri disebabkan oleh kenaikan harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO). Menurut Heru, harga CPO sempat menguat hingga lebih dari US$750 per metrik ton.

"Kemudian untuk rokok, kami akan terus lakukan ekstensifikasi pengawasan sehingga kami harapkan bisa tercapai," terang dia.

Heru menjelaskan, pada tahun lalu, DJBC mencatat adanya penerimaan cukai khusus di bulan Desember sebesar Rp47 triliun. Lonjakan ini disebabkan adanya perubahan aturan yang mewajibkan cukai dibayar pada akhir tahun.

Aturan ini tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 20 tahun 2015 tentang Perubahan Ketiga Atas PMK nomor 69/PMK.04/2009 tentang Penundaan Pembayaran Cukai untuk Pengusaha Pabrik atau Importir Barang Kena Cukai yang Melaksanakan Pelunasan dengan Cara Pelekatan Pita Cukai.

"Jadi praktis Desember itu kami menerima tiga bulan penerimaan dari cukai rokok, sehingga ini yang menyebabkan perlonjakan penerimaan," pungkas Heru. (agi/agi)