Sri Mulyani menjelaskan, pertumbuhan ekonomi di kuartal IV dapat didorong oleh belanja pemerintah. Pasalnya, realisasi belanja negara hingga kuartal III 2017 baru mencapai Rp481,34 triliun atau 22,56 persen dari pagu anggaran 2017 yakni Rp2.133,3 triliun. Meski memang, angka ini lebih besar 9,36 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yakni Rp440,14 triliun.
Oleh karena itu, instansinya pun akan memantau kebutugan belanja dan program seluruh Kementerian dan Lembaga hingga akhir tahun nanti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, ia juga berharap adanya penguatan dari sisi komponen pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB) lainnya. Investasi, contohnya, diharapkan bisa melanjutkan tren penguatan seperti pada kuartal sebelumnya. Pada kuartal III, pertumbuhan investasi mencapai 7,11 persen (yoy) dengan berkontribusi terhadap 31,87 persen terhadap PDB.
Ia juga berharap, kinerja ekspor bisa lebih tajam, di mana penguatan harga komoditas bisa jadi penopang pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, Sri Mulyani juga berharap harga-harga pada kuartal IV bisa tetap stabil sehingga bisa menopang daya beli masyarakat. Melambatnya konsumsi rumah tangga pada kuartal III menjadi catatan pemerintah. Kadin bahkan mengusulkan perlu adanya dorongan kebijakan fiskal guna mendongkrak daya beli.
“Kami telah mempelajari usulan tersebut (kadin). Sifatnya dengan apakah promosi menggunakan atau memberikan sesuatu mengenai PPN, akan kita lihat dari sisi aturan,” paparnya.
Sekadar informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal III sebesar 5,06 persen secara year-on-year atau lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya 5,02 persen. Pertumbuhan itu sebagian besar ditopang oleh konsumsi rumah tangga, di mana kontribusinya mencapai 55,68 persen dari total PDB. (agi)