Pinjam KUR, Petani Sawit 'Gratis' Bayar Cicilan Lima Tahun

Safyra Primadhyta & Agustiyanti, CNN Indonesia | Senin, 27/11/2017 18:44 WIB
Pinjam KUR, Petani Sawit 'Gratis' Bayar Cicilan Lima Tahun Mulai tahun depan, petani sawit dapat meminjam KUR untuk peremajaan kebun dengan bunga 7 persen dan masa tenggang (grace periode) selama lima tahun. (Humas Kemenko Perekonomian).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah akan mulai menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk peremajaan kebun (replanting) tanaman kelapa sawit pada tahun depan. Penyaluran KUR ini akan menggunakan skema khusus, yakni adanya pemberian masa tenggang (grace periode) lima tahun dan bunga 7 persen.

Masa tenggang adalah waktu yang diberikan bank kepada nasabah untuk tidak dulu membayarkan pinjaman pokok dan/atau bunga sesuai kesepakatan.

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan, dari total luas perkebunan kelapa sawit seluas 11,9 juta ha, sekitar 41 persen atau 4,6 juta ha di antaranya merupakan kebun kelapa sawit rakyat.


Berdasarkan data perkebunan, kebun kelapa sawit rakyat yang dikelola oleh 2,3 juta Kepala Keluarga (KK) memiliki beberapa kekurangan. Mulai dari umur tanaman yang sudah lebih dari 25 tahun, produktivitas yang rendah, penggunaan bibit yang buruk, lahan yang tidak jelas status hukumnya, serta Agriculture Practice yang tidak baik.

“Tugas besar untuk meremajakan kelapa sawit seluas 4,6 juta ha ini harus dilakukan secara bersama-sama. Apabila 4,6 juta dibagi dengan 25 tahun, maka setiap tahun kita harus meremajakan 185 ribu ha,” ujar Darmin dalam acara Peremajaan Sawit Rakyat di Sumatera Utara, dikutip dari keterangan resmi, Senin (27/11).

Di Sumatera Utara sendiri, menurut dia, peremajaan kelapa sawit antara lain di Sumatera Utara sudah sangat mendesak. Dari total 470 ribu ha lahan sawit, seluas 350 ribu ha telah berusia tua. Usia yang tua, membuat produktivitas sawit rendah yakni kurang dari 10 ton per Tandan Buah Segar per tahun.

Guna meremajakan sawit, menurut Darmin, pemerintah pada tahun ini telah mengalolasikan anggaran sebesar Rp3 triliun melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit dalam bentuk dana bantuan pada petani sawit. Adapun kekurangan dana, dapat dipenuhi dengan pinjaman komersil dari bank dan atau tabungan pekebuna, maupun fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR).

"Fasilitas KUR dengan bunga yang sebelumnya 9 persen menjadi 7 persen per tahun, kemudian grace periode selama lima tahun untuk KUR Khusus Peremajaan Perkebunan. KUR khusus ini akan mulai berlaku per 1 Januari 2018," terang dia.

Dalam keterangan terpisah, dua bank BUMN, yakni Bank Mandiri dan BNI telah menyatakan komitmennya guna menyalurkan KUR dengan skema khusus tersebut.

Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Sulaiman Arif Arianto mengaku telah memberikan komitmen KUR replanting kelapa sawit sekitar Rp20 miliar kepada 165 petani sawit dari kelompok Aek Raso Maju Bersama yang memiliki luas lahan 402 hektar di Labuhan Batu Selatan, Sumatera Utara.

Adapun KUR berskema khusus ini, menurut dia, baru bisa dicairkan pada tahun depan ini memiliki jangka waktu maksimal 13 tahun dengan bunga 7% per tahun.

"Potensi industri kelapa sawit sendiri sangat besar, apalagi saat ini kelapa sawit tercatat menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar, selain migas," ujar Sulaiman.

Sulaiman pun optimis dapat memenuhi komitmen pembiayaan KUR ke sektor produktif sebesar 40% dari total portofolio KUR perseroan.

Hingga Oktober 2017, Bank Mandiri telah menyalurkan KUR sebesar Rp10,5 triliun atau 81% dari target Rp13 triliun pada tahun ini.

Sementara itu, Direktur Kredit Kecil dan Jaringan BNI Catur Budi Harto menjelaskan, pada tahap awal, pihaknya akan memberikan pembiayaan kepada 60 petani dengan total penyaluran kredit sebesar Rp819 juta.

"Dengan adanya program launching KUR Khusus Peremajaan Sawit Rakyat dengan bunga 7 persen serta dukungan BPDP, kami optimis, program serupa dapat diteruskan di daerah lain untuk mendukung program pemerintah dalam ketahanan pangan dan energi,” terang Catur Budi Harto.

(agi/agi)