Ketiga saham tambang tersebut, yakni PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau ANTM, PT Bukit Asam (Persero) Tbk atau PTBA, dan PT Timah (Persero) Tbk (TINS). Saham Antam terkoreksi 0,76 persen ke level Rp650 per saham, Bukit Asam melemah 0,46 persen jadi Rp10.850 per saham, dan Timah turun 0,6 persen ke level Rp835 per saham.
Setelah penandatanganan yang dilakukan Rini Soemarno tersebut, maka holding BUMN tambang yang sudah lama direncanakan resmi terbentuk. Dalam hal ini, Inalum menjadi induk dari holding tambang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini lebih kepada pelemahan harga komoditas, pelemahan nikel, batu bara, dan timah," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (28/11).
Lihat juga:Holding BUMN Tambang Resmi Terbentuk |
Ia mencontohkan, tiga emiten tersebut nantinya bisa membeli satu alat untuk melakukan eksplorasi dan digunakan secara bergantian. Dengan demikian, biaya operasional masing-masing emiten berpotensi berkurang.
"Eksplorasi kan tidak setiap hari, mungkin ada yang masih sewa. Jadi, mereka bisa beli dan dipakai bersama. Itu contoh teknisnya," jelasnya.
"Jadi, mereka semakin terisolasi dengan kepentingan politik dan birokrasi. Nanti mereka langsung berhubungan dengan Inalum," papar Alfred.
Ia juga optimistis, harga saham tiga emiten tambang ini tidak akan terkena pengaruh oleh pembentukan holding saat RUPS dilaksanakan esok hari. Menurutnya, pelaku pasar lebih fokus pada pernyataan Inalum sebagai induk holding terkait rencana ke depan.
"Yang ditunggu, roadmap-nya Inalum bagaimana ini kan ada tiga emiten di bawahnya,” pungkasnya. (bir)