Besaran Kredit dan Bunga Program OK OCE Ternyata Belum Diatur

Yuli Yanna Fauzie , CNN Indonesia | Sabtu, 16/12/2017 10:30 WIB
Besaran Kredit dan Bunga Program OK OCE Ternyata Belum Diatur Pihak perbankan menyebut belum mengatur besaran modal dan bunga kredit bagi debitur program OK OCE yang digagas Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. (ANTARA FOTO/Reno Esnir).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pihak perbankan menyebut belum mengatur besaran modal dan bunga kredit bagi debitur program One Kecamatan, One Centre for Entrepreneurship (OK OCE) yang digagas Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Program OK OCE dirancang oleh Anies-Sandi sebagai program yang menjadi titik pertemuan antara wirausaha dengan pihak perbankan untuk memperoleh modal usaha, sehingga akses modal bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kian luas.

PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) DKI Jakarta atau Bank DKI misalnya. Bank yang dimiliki Pemprov DKI Jakarta itu mengaku telah beberapa kali menggelar rapat dengan tim OK OCE untuk mengeksekusi program itu.

Namun, sejauh ini belum ada ketentuan besaran kredit dan bunga khusus bagi UMKM yang bergabung dalam program ini. Walhasil, ketentuan besaran kredit dan bunga mengikuti ketentuan pemberian kredit komersial yang selama ini ditawarkan Bank DKI ke pasar.

“Soal bunga ikut bunga pasar), kecuali ada program dari pemerintah daerah. Tapi belum ada program (khusus),” ujar Direktur Bisnis Bank DKI Antonius Widodo Mulyono kepada CNNIndonesia.com, Jumat (15/12).

Selain belum ada program khusus, Widodo bilang pemberian kredit dan bunganya tetap mengikuti angka pasar karena bank perlu menjalankan arahan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar memberikan kredit secara hati-hati (prudent).

“Karena bank dengan adanya program atau tidak ada program tetap harus memperhitungkan sisi prudent itu,” imbuhnya.

Kendati begitu, di luar program akses permodalan, sebenarnya Bank DKI telah menjalankan kerja sama lain dengan Pemprov. Misalnya, sistem pembayaran melalui aplikasi JakOne Mobile yang dapat digunakan untuk pembayaran transaksi di OK OCE Mart. “Jadi kerja samanya sudah mulai dan tidak hanya soal akses modal saja,” pungkasnya.

Sementara, perbankan lain, misalnya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mengatakan, belum ada komunikasi dari Pemprov DKI Jakarta dengan bank mengenai program OK OCE.

“Belum ada (komunikasi) dengan BRI. Mungkin belum saja,” ucap Direktur Kredit Mikro dan Ritel BRI Priyastomo kepada CNNIndonesia.com.

Oleh karenanya, skema akses, nilai kredit, hingga besaran bunga belum dapat digambarkan oleh bank yang memiliki pangsa pasar besar di segmen kredit mikro dan ritel itu. “Belum tahu skemanya seperti apa,” imbuhnya.

Sebelumnya, Sandi menegaskan bahwa OK OCE bukanlah program yang memberi modal kepada wirausaha. Namun, program itu hanya menjembatani wirausaha dengan pihak perbankan.

Di sisi lain, program itu akan memberikan fasilitas, seperti pelatihan dan kantor virtual.“Kita enggak ada janjikan berikan modal dari OK OCE. Yang ada itu kita menjembatani,” katanya.

Sementara saat era kampanye Pilkada DKI Jakarta 2017, Sandi pernah menyebut bahwa program OK OCE akan memberikan bantuan modal hingga Rp 300 juta per UKM. Namun, uang tidak didapat dari APBD DKI Jakarta, melainkan dari perbankan. UKM terkait juga akan terlebih dulu diberikan pelatihan dan pendampingan. (lav/lav)