2017, Penerbitan Baru Obligasi Korporasi Melejit 40 Persen

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Jumat, 29/12/2017 09:11 WIB
2017, Penerbitan Baru Obligasi Korporasi Melejit 40 Persen Nilai penerbitan baru obligasi korporasi sepanjang 2017 tercatat mencapai Rp161,36 triliun atau melesat hingga 40,23 persen dari 2016 sebesar Rp115,06 triliun. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai penerbitan baru obligasi korporasi sepanjang 2017 tercatat mencapai Rp161,36 triliun atau melesat hingga 40,23 persen dari posisi akhir 2016 sebesar Rp115,06 triliun. Beban bunga utang yang rendah menjadi pemicu korporasi meramaikan pasar obligasi.

Berdasarkan data Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), total penerbitan baru obligasi ini didominasi oleh emiten sektor keuangan dengan nilai Rp97 triliun atau porsi sebesar 60 persen dari total penerbitan baru tersebut. Disusul kemudian oleh sektor infrastruktur dengan nilai total Rp19,74 triliun

Analis IBPA Robby Rushandie menyatakan, angka penerbitan baru obligasi tahun 2017 ini juga jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan akhir tahun 2015 sebesar Rp62,75 triliun.


"Jadi rekor baru nih pada tahun 2017 naiknya cukup tinggi," terang Robby kepada CNNIndonesia.com, Kamis (28/12).

Sementara itu, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, nilai outstanding obligasi korporasi nasional per 22 Desember 2017 mencapai Rp382 triliun, atau naik 27,75 persen dari posisi akhir 2016 yang hanya Rp299 triliun. Obligasi tersebut diterbitkan oleh 119 perusahaan dengan total 531 seri obligasi. Bila dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah perusahaan yang menerbitkan obligasi hanya bertambah sembilan perusahaan.

"(Per 30 Desember 2016) ada 445 seri obligasi," ujar Direktur KSEI Syafruddin.

Pertumbuhan ini juga sejalan dengan jumlah obligasi jatuh tempo yang meningkat pada tahun 2017. Syafruddin merinci, jumlah obligasi jatuh tempo tahun lalu hanya Rp48,82 triliun, sedangkan tahun ini naik 56,9 persen menjadi Rp76,6 triliun.

"Ditambah obligasi jatuh tempo US$20 juta," sambung Syafruddin.

Rupanya, tak hanya obligasi korporasi yang bertambah, tetapi juga dengan penerbitan surat utang jangka menengah (medium term note/MTN).

Total emisi MTN hingga 22 Desember 2017 mencapai Rp44,27 triliun dan US$775 juta. Sementara itu, penerbitan MTN pada 2016 hanya dalam denominasi rupiah yakni sebanyak Rp25,69 triliun.

Bila dihitung dari jumlah emisi MTN yang diterbitkan melalui mata uang rupiah saja, maka ada kenaikan sebesar 72,32 persen. Sepanjang tahun ini, sebanyak 99 perusahaan memanfaatkan MTN untuk mendapatkan dana segar, sedangkan tahun lalu hanya 76 perusahaan.

Kepala Divisi Operasional Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) Ifan Mohamad Ihsan berpendapat, peningkatan nilai obligasi dan jumlah perusahaan yang melakukan aksi korporasi tersebut didorong oleh rendahnya imbal hasil (yield) obligasi tahun ini.

"Kalau dilihat sepanjang tahun ini yield obligasi korporasi rating AAA jangka waktu lima tahun sudah turun hampir 170 bps dari 9,4 persen pada akhir tahun lalu menjadi 7,7 per kemarin (Rabu 27 Desember 2017)," papar Ifan.

Dengan demikian, biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk membayar bunga kepada investor pun kian murah, sehingga beban perusahaan semakin kecil.

"Penurunan yield obligasi terutama karena ekonomi fundamental masih menunjukan tren positif," terang Ifan.

Misalnya saja, pertumbuhan ekonomi yang tidak turun dibawah lima persen, tingkat inflasi, dan nilai tukar rupiah yang masih dinilai stabil. Ditambah lagi, berbagai peringkat utang Indonesia dari lembaga pemeringkat internasional turut menambah sentimen positif.

"Faktor lainnya adalah kebutuhan refinancing (pembiayaan kembali utang) dari surat utang yang jatuh tempo tahun ini," ucap Ifan.

Kemudian, arahan pemerintah yang menginginkan agar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak bergantung pada Penyertaan Modal negara (PMN) dalam melakukan ekspansi atau memenuhi kebutuhan proyek infrastruktur menjadikan BUMN memutar otak untuk mencari pendanaan dari pasar modal.

"Jadi pencarian dana dari pasar modal pun sudah cukup populer, penerbitannya terus tumbuh," jelas Ifan.

Ia menambahkan, perbankan dan multifinance merupakan perusahaan paling banyak yang memanfaatkan pasar modal dalam mencari pendanaan.

"Hal ini terkait kebutuhan mereka untuk keperluan pembelian pinjaman ke pihak ketiga," tutur Ifan.

Untuk tahun depan, Ifan memproyeksi jumlah emisi semakin bertambah bersamaan dengan jumlah obligasi yang jatuh tempo pada 2018 sebanyak Rp79 triliun.

"Sehingga ada kemungkinan refinancing sebanyak itu," imbuhnya.

Sementara, kenaikan peringkat utang Indonesia oleh Fitch Ratings menjadi BBB dari BBB- juga menjadi katalis perusahaan menerbitkan obligasi. Hal ini akan membuat yield obligasi semakin turun.
(lav/bir)


BACA JUGA