Bank Swasta Sebut Pelonggaran Kredit di Bali Tak Ganggu NPL

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Kamis, 04/01/2018 06:46 WIB
Bank Swasta Sebut Pelonggaran Kredit di Bali Tak Ganggu NPL Sebagian bank swasta menyebut kebijakan OJK terkait pelonggaran kredit bagi debitur terdampak erupsi Gunung Agung tak akan mengganggu rasio kredit macet. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagian bank swasta menyebut kebijakan Otoritas Jasa Keuangan untuk memberi pelonggaran kredit bagi debitur yang terkena dampak erupsi Gunung Agung di Karangasem, Bali, tak akan mengganggu rasio kredit macet.

Pasalnya, nilai dana dan jumlah debitur yang meminta kelonggaran kredit tak signifikan dibandingkan total kinerja perusahaan.

Manajemen PT Bank Mega Tbk (MEGA) menyebut, kebijakan pelonggaran kredit ini diberikan perusahaan dalam bentuk restrukturisasi jangka waktu pembayaran kredit pada akhir tahun 2017.



"Jadi, perusahaan yang pendapatannya tidak sesuai dengan proyeksi mereka, dihitung ulang kemudian disesuaikan dengan kemampuan bayarnya untuk sementara waktu," papar Direktur Kredit Bank Mega Madi Darmadi Lazuardi kepada CNNIndonesia.com, Rabu (3/1).

Namun, bentuk kebijakan tersebut tak sama antar perusahaan yang meminta kelonggaran pembayaran kredit. Hal ini akan disesuaikan dengan kondisi keuangan tiap perusahaan.

"Tidak ada rumusnya, jadi bukan kebijakan umum tapi kami pertimbangkan satu-satu," kata Madi.

Kebanyakan debitur yang memohon kelonggaran kredit merupakan mereka yang berkecimpung di bisnis pariwisata, seperti hotel dan villa.

"Sektor pariwisata atau hotel misalnya itu kan sangat terasa penurunannya, okupansi turun jadi kelonggaran kami berikan per perusahaan," jelasnya.

Kendati telah memberikan kebijakan khusus, Madi optimis hal ini tidak akan berpengaruh pada rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) perusahaan. Pasalnya, jumlah kredit yang dikucurkan untuk nasabah di Bali, termasuk Kabupaten Karangasem di bawah lima persen dari total keseluruhan kredit.

Seperti diketahui, Bank Mega telah menyalurkan kredit sebesar Rp31,5 triliun pada kuartal III 2017. Sedangkan jumlah kredit yang digelontorkan untuk debitur di Bali tidak sampai Rp1,57 triliun.


"Kami yakin dampak dari erupsi Gunung Agung tidak lama, tapi ini memang tidak begitu berdampak untuk perusahaan," jelas Madi.

Selanjutnya, Direktur Consumer Banking PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) Lani Darmawan memaparkan, perusahaan memang akan memberikan kemudahan pembayaran kredit bagi debitur yang terdampak erupsi Gunung Agung di Bali.

"Secara total kami belum melihat ada perbedaan besar, untuk keringangan akan kami terapkan. Kami akan monitor terus," ujar Lani.

Hingga saat ini, ia mengklaim, jumlah debitur yang meminta kelonggaran pembayaran kredit baru satu hingga dua debitur. Namun, perusahaan tidak akan asal dalam memberikan kelonggaran sebelum dilakukan pengkajian terlebih dahulu.

"Kami pertimbangkan berdasarkan ulasan, dan keringanan cicilan bisa berbeda-beda tergantung hasil penilaian," ungkap Lani.

Setali tiga uang dengan Bank Mega, Lani mengakui jumlah kredit di Bali di bawah lima persen dari total penyaluran kredit konsumer. Artinya, total kredit di Bali hanya sebesar Rp2,48 triliun dari total kredit konsumer kuartal III 2017 sebesar Rp49,6 triliun.

"Jadi tidak berpengaruh secara total," tegasnya.


Di sisi lain, Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Santoso Liem menuturkan, pihaknya belum memberikan pelonggaran kepada nasabah di Bali sebagai dampak dari erupsi Gunung Agung.

"Tapi kami terus memantau dan berkomunikasi dengan nasabah," ucap Santoso.

Dalam komunikasi yang dilakukan perusahaan, Santoso menyebut belum ada laporan dari nasabahnya yang bermasalah dalam membayar kredit karena erupsi Gunung Agung.

Lagipula, porsi kredit BCA untuk nasabah di Bali tidak tinggi bila dibandingkan dengan total kredit BCA. Santoso menyebut, komposisinya tidak sampai lima persen.

"Itu campur ya, termasuk komersial, korporasi, dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM)," jelas Santoso.

Pada kuartal III 2017, BCA membukukan pertumbuhan kredit (outstanding) sebesar 13,9 persen menjadi Rp440 triliun. Dengan demikian, total kredit di Bali tidak lebih dari Rp22 triliun. (lav/bir)