Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, penyaluran KUR oleh Bank Pembangunan Daerah (BPD) cuma sebesar Rp1,6 triliun hingga November 2017 atau 30,76 persen dari target yang sebesar Rp5,2 triliun.
Realisasi penyaluran KUR oleh bank swasta malah lebih rendah lagi. Yakni, cuma Rp1,3 triliun dari target sebesar Rp4,9 triliun. Itu berarti, realisasinya hanya 26,53 persen dari target.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekadar informasi, sesuai dengan rencana pemerintah yang diumumkan November 2017 lalu, suku bunga KUR akan diseret turun dari 9 persen menjadi hanya 7 persen.
“Makanya, banyak debitur yang menahan diri untuk meminjam ke bank. Komplainnya bank seperti itu. Ya, jelaslah, saya kan juga seperti itu. Tunggu murah dulu,” ujarnya, Kamis (4/1).
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, misalnya, tercatat menyalurkan KUR Rp69,6 triliun atau mencapai 97,75 persen dari target Rp71,2 triliun. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk malah tembus target hingga 102 persen. Realisasinya mencapai Rp13,3 triliun dari target Rp13 triliun.
Sementara, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menyalurkan KUR Rp9,7 triliun atau cuma 80,9 persen dari target yang sebesar Rp12 triliun.
Secara keseluruhan, penyaluran KUR per November 2017 mencapai Rp95,6 triliun atau 89,68 persen dari target sebesar Rp106,6 triliun. Jumlah itu mengalir kepada 4 juta debitur.
Adapun, penyaluran KUR sepanjang tahun lalu diproyeksi tembus Rp100 triliun atau 92 persen-93 persen dari target. Tercatat, 41 lembaga keuangan menjadi penyalur KUR, baik bank, nonbank, maupun koperasi.
Lebih rinci, penyaluran KUR ke sektor pertanian sebesar 24 persen. Lalu, perikanan 1,6 persen, industri pengolahan 5,9 persen, jasa sebesar 12 persen, dan perdagangan mengerucut dari 66,3 persen menjadi 56 persen.
“Pemerintah lebih fokus ke sektor produktif karena menghasilkan output (produksi) dan jasa,” pungkasnya. (bir)