Iming-iming Bunga Murah Bikin Realisasi KUR 'Tiarap' di 2017

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Kamis, 04/01/2018 17:37 WIB
Iming-iming Bunga Murah Bikin Realisasi KUR 'Tiarap' di 2017 Realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh bank daerah cuma 30,76 persen dari target. Bahkan, bank swasta lebih rendah lagi, yaitu 26,53 persen. (CNNIndonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Iming-iming penurunan bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) tahun ini membuat banyak calon debitur menahan diri. Akibatnya, realisasi KUR tahun lalu boleh dibilang tiarap. Bahkan jauh dibawah target.

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, penyaluran KUR oleh Bank Pembangunan Daerah (BPD) cuma sebesar Rp1,6 triliun hingga November 2017 atau 30,76 persen dari target yang sebesar Rp5,2 triliun.

Realisasi penyaluran KUR oleh bank swasta malah lebih rendah lagi. Yakni, cuma Rp1,3 triliun dari target sebesar Rp4,9 triliun. Itu berarti, realisasinya hanya 26,53 persen dari target.


Iskandar Simorangkir, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengatakan, rendahnya realisasi KUR, baik dari BPD maupun bank swasta, lantaran debitur menahan diri menanti penurunan bunga.

Sekadar informasi, sesuai dengan rencana pemerintah yang diumumkan November 2017 lalu, suku bunga KUR akan diseret turun dari 9 persen menjadi hanya 7 persen.
“Makanya, banyak debitur yang menahan diri untuk meminjam ke bank. Komplainnya bank seperti itu. Ya, jelaslah, saya kan juga seperti itu. Tunggu murah dulu,” ujarnya, Kamis (4/1).

Selain itu, sambung Iskandar, sejatinya data realisasi penyaluran KUR yang tercatat baru sampai November. Ini berarti, masih ada realisasi satu bulan (Desember) yang belum dibukukan.

Kendati demikian, di luar alasan tersebut, ia mengaku tak melihat alasan lain yang memengaruhi rendahnya penyaluran KUR. Pun begitu, jumlah penyaluran KUR dari BPD dan bank swasta tersebut berbanding terbalik dengan realisasi penyalura KUR tiga bank pelat merah.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, misalnya, tercatat menyalurkan KUR Rp69,6 triliun atau mencapai 97,75 persen dari target Rp71,2 triliun. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk malah tembus target hingga 102 persen. Realisasinya mencapai Rp13,3 triliun dari target Rp13 triliun.

Sementara, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menyalurkan KUR Rp9,7 triliun atau cuma 80,9 persen dari target yang sebesar Rp12 triliun.

“Mereka bisa salurkan (KUR) lebih baik, karena mereka menjalin kerja sama dan lebih efisien dalam menyalurkan,” imbuh Iskandar.

Secara keseluruhan, penyaluran KUR per November 2017 mencapai Rp95,6 triliun atau 89,68 persen dari target sebesar Rp106,6 triliun. Jumlah itu mengalir kepada 4 juta debitur.

Adapun, penyaluran KUR sepanjang tahun lalu diproyeksi tembus Rp100 triliun atau 92 persen-93 persen dari target. Tercatat, 41 lembaga keuangan menjadi penyalur KUR, baik bank, nonbank, maupun koperasi.

Dari sisi sektor usaha, sekitar 44 persen penyaluran KUR tahun lalu mengalir ke sektor produktif. Porsi ini semakin gemuk dibandingkan tahun sebelumnya yang cuma 33 persen.

Lebih rinci, penyaluran KUR ke sektor pertanian sebesar 24 persen. Lalu, perikanan 1,6 persen, industri pengolahan 5,9 persen, jasa sebesar 12 persen, dan perdagangan mengerucut dari 66,3 persen menjadi 56 persen.

“Pemerintah lebih fokus ke sektor produktif karena menghasilkan output (produksi) dan jasa,” pungkasnya. (bir)