Analisis

Menguji Rasionalitas Mimpi Ratu Prabu Bangun LRT Rp400 T

Dinda Audriene Muthmainah , CNN Indonesia | Rabu, 10/01/2018 11:32 WIB
Menguji Rasionalitas Mimpi Ratu Prabu Bangun LRT Rp400 T Ratu Prabu Grup bermimpi membangun proyek LRT Jabodetabek senilai Rp405 triliun. Ilustrasi. (ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jarang terdengar sebelumnya, PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI) kini tengah menjadi buah bibir berbagai pihak setelah rencana perusahaan untuk membangun megaproyek Light Rail Transit (LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek) dengan nilai mencapai Rp405 triliun.

Bagaimana tidak, sebagian besar pelaku pasar bertanya-tanya mengenai kesanggupan perusahaan menyanggupi pendanaan tersebut seorang diri ketika nilai aset dan ekuitas perusahaan terbilang kecil.

Meski memang, manajemen dari Ratu Prabu Grup mengklaim belum memutuskan apakah proyek LRT Jabodetabek akan dibawahi langsung oleh Ratu Prabu Energi atau langsung dibawah grup. Namun, yang pasti bakal ada perusahaan baru di sektor infrastruktur untuk mengurus dan mengoperasikan LRT Jabodetabek.


Bila perusahaan khusus infrastruktur ini nantinya berada di bawah Ratu Prabu Energi, tentu kinerja keuangan emiten berbasis energi tersebut akan menjadi patokan bagi kemampuan perusahaan membangun LRT Jabodetabek.

Mengutip laporan keuangan Ratu Prabu Energi pada kuartal III 2017, jumlah ekuitasnya hanya sebesar Rp1,73 triliun dengan nilai aset sebesar Rp2,53 triliun.

"Jadi antara nilai proyek dengan nilai perusahaan jauh sekali," ungkap Alfred Nainggolan, Kepala Riset Koneksi Kapital kepada CNNIndonesia.com, Rabu (9/1).

Menurutnya, perusahaan sebenarnya masih bisa meraih pinjaman perbankan dengan jumlah ekuitas dan aset sebesar itu. Hanya saja, jumlahnya tak akan mencapai ratusan triliun.

"Jadi suntik dana ekuitas dulu, setelah itu kemampuan perusahaan dalam mendapatkan pendanaan dari perbankan akan meningkat karena laverage meningkat," papar Alfred.

Menurutnya, suntikan dana ini bisa dilakukan dengan cara penerbitan saham baru melalui skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue.

Sementara itu, Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menyebut, kemungkinan besar rencana perusahaan sulit terealisasi jika hanya dikerjakan sendiri. Perusahaan, menurut dia, membutuhkan pihak lain atau menggandeng mitra stretegis (strategyc partner) untuk membangun LRT.

"Melihat kekuatan perusahaan seperti ini, maka perlu pihak mitra strategis karena dana investasi begitu besar," terang Hans Kwee.

Apalagi, kinerja perusahaan belum bisa dikatakan positif pada kuartal III 2017. Masalahnya, pendapatan masih turun menjadi Rp162,94 miliar dari kuartal III tahun 2016 yang sebesar Rp169,19 miliar. Namun, laba bersih perusahaan nyatanya tercatat tumbuh dari posisi Rp1,55 miliar menjadi Rp2,23 miliar.

Kendati demikian, kinerja perusahaan nyatanya bukan satu-satunya acuan bagi perbankan atau investor dalam memberikan pendanaan. Untuk proyek infrastruktur, hasil studi kelayakan (feasibility study) terkait proyek tersebut menjadi bahan pertimbangan perbankan dan investor.

"Selain itu aset yang bisa dijaminkan juga dilihat, jaminan aset biasanya bisnis yang eksisting," tutur Hans Kwee.

Dana dari Eximbank China

Meskipun banyak pihak yang pesimis dengan proyek LRT Jabodetabek ini, tetapi Prabu Ratu Grup mengklaim pihaknya telah mendapatkan komitmen dari Export-Import Bank of China (China Eximbank) untuk mengucurkan pinjaman dari mayoritas dana yang dibutuhkan untuk membangun LRT Jabodetabek.

Burhanuddin Bur Maras, Direktur Utama Ratu Prabu Grup menyebut, kemungkinan besar kebutuhan dana pembangunan LRT Jabodetabek akan dipenuhi dengan kredit sindikasi.

Bahkan, perbankan dari negara lainnya, seperti Jepang dan Korea juga menunjukan ketertarikannya untuk mendanai pembangunan LRT Jabodetabek. Namun begitu, Bur Maras mengaku belum ada keputusan jumlah dana yang akan digelontorkan dari masing-masing pihak.

"Jadi menunggu persetujuan pemerintah dulu," kata Bur Maras.

Merespons telah adanya perbankan yang menyatakan sanggup mendanai sebagian kebutuhan proyek LRT, Hans Kwee menilai China Eximbank lebih melihat terhadap hasil feasibility study yang dilakukan oleh perusahaan.

Adapun perusahaan mengklaim feasibility study (FS) LRT Jabodetabek telah dilakukan bersama lembaga konsultan asal Amerika Serikat (AS) dan Australia.

Dalam hitungan kedua lembaga konsultan ini, perusahaan berpeluang meraup pendapatan dari LRT Jabodetabek hingga US$15 juta atau sekitar Rp202,5 miliar per hari, dengan catatan harga tiket pulang dan pergi sebesar US$3 atau sekitar Rp40 ribu dan jumlah penumpang sebanyak lima juta per hari.

"Jadi jika dikali 365 hari, pendapatannya mencapai US$5,47 miliar untuk setahun," tegas Bur Maras.

FS tersebut juga menunjukkan tingkat pengembalian hasil investasi atau Internal rate of return (IRR) proyek LRT Jabodetabek sebesar 10,9 persen.

Hitungan tingkat pengembalian investasi tersebut sebenarnya tak berbeda jauh dengan IRR proyek LRT Jabodebek yang saat ini tengah dikerjakan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan PT Adhi Karya Tbk yang juga sebesar 11 persen.
KAI dan Adhi Karya saat ini tengah menyelesaikan proyek LRT Jabodebek.KAI dan Adhi Karya saat ini tengah menyelesaikan proyek LRT Jabodebek. (CNNIndonesia/Safir Makki)
Namun, proyek yang sudah berjalan ini disubsidi habis-habisan oleh pemerintah. Total anggaran yang dikucurkan pemerintah mencapai 23 triliun. Anggaran tersebut disalurkan melalui PMN kepada KAI dan Adhi Karya sebesar Rp9 triliun agar keduanya memiliki modal yang cukup untuk menarik pinjaman guna membiayai proyek tersebut.

Sementara itu, sekitar Rp14 triliun dikucurkan guna menyubsidi tiket sehingga harga tiket LRT Jabodebek nantinya hanya dipatok sebesar Rp12 triliun.

Adapun nilai proyek LRT yang akan dibangun sepanjang 43,3 km tersebut mencapai Rp29,9 triliun.

Arus Kas Ratu Prabu Energi Berisiko

Di sisi lain, Analis Semesta Indovest Aditya Perdana Putra berpendapat, pemberian pinjaman kredit terhadap Ratu Prabu Energi sebenarnya telalu berisiko karena arus kas (cash flow) perusahaan yang belum dikatakan cukup baik.

"Jadi ini tidak mungkin, melihat total aset dan arus kas saya rasa mustahil," kata Aditya.

Arus kas ini disebut penting untuk menilai suatu perusahaan dapat membayar utang beserta bunganya. Sepanjang Januari hingga September 2017, arus kas perusahaan terpantau negatif.

Lebih rinci, arus kas dari aktivitas operasi minus Rp4,55 miliar, arus kas dari aktivitas investasi minus Rp563,95 miliar, dan arus kas dari aktivitas pendanaan minus Rp29,03 miliar.

Sementara itu, jumlah aset lancar per akhir September 2017 sebesar Rp283,09 miliar dan jumlah aset tidak lancar mencapai angka Rp2,25 triliun.

Sehingga, jika Ratu Prabu Grup benar-benar mendapatkan raihan pinjaman perbankan dari China Eximbank, maka Aditya menilai ada perusahaan lain yang menjadi patokan kinerja bagi perbankan yang ingin menyalurkan dana untuk proyek LRT Jabodetabek.

"Jadi bisa saja perusahaan dari luar yang dilihat, tapi kalau fokus ke Ratu Prabu Energi saya kira perbankan kurang berminat," ujar Aditya. (agi/agi)