Antisipasi The Fed, Obligasi Global Diterbitkan Awal Tahun

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Jumat, 12/01/2018 17:45 WIB
Antisipasi The Fed, Obligasi Global Diterbitkan Awal Tahun Pemerintah akan menerbitkan tiga surat utang berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) atau global bond pada semester pertama 2018. (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah akan menerbitkan tiga surat utang berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) atau global bond pada semester pertama 2018. Hal itu dilakukan untuk memenuhi target penerbitan obligasi valas yang dipatok maksimal Rp171 triliun pada tahun ini.

Ketiga obligasi yang dimaksud antara lain, surat utang syariah (sukuk) global, obligasi dengan dua mata uang asing (dual currency) berdenominasi dolar AS dan Euro, dan obligasi berdenominasi yen Jepang (samurai bond).

Direktur Surat Utang Negara (SUN) Direktorat Jenderal Pengelolaan, Pembiayaan, dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu) Loto Srinaita Ginting mengatakan, waktu penerbitan sengaja dipilih pada paruh pertama tahun ini lantaran pemerintah ingin mengantisipasi dampak dari kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve pada tahun ini.

"Semuanya tahu ada rencana Fed Fund Rate tiga kali dan semua melihatnya akan ada kenaikan tingkat bunga karena pertumbuhan ekonomi global relatif membaik. Kemudian, ada rencana pengurangan balance sheet dari The Fed," ujar Loto di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (12/1).


Untuk itu, Loto melihat bahwa paruh pertama tahun ini menjadi waktu yang tepat, sebelum kenaikan terjadi. Hanya saja, ia masih enggan merinci lebih pasti waktu penerbitan tiga obligasi valas tersebut. "Timing-nya kami lihat," imbuhnya.

Sebagai estimasi awal, Loto mengatakan, pemerintah memasang target penerbitan obligasi valas sekitar 17-20 persen dari total kebutuhan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp856 triliun pada tahun ini.

Artinya, penerbitan obligasi valas sekitar Rp145,52-171,2 triliun pada tahun ini. Sebab, pemerintah tak berencana menerbitkan lagi obligasi valas pada paruh kedua tahun ini.

"Tapi kami bisa sesuaikan demand (permintaan) domestik, kalau meningkat, kami bisa kurangi (porsi obligasi valas). Kalau demand domestik tidak terlalu strong (kuat), bisa kami tingkatkan, misalnya ke angka 25 persen," jelasnya.

Kendati begitu, Loto belum ingin merinci estimasi target penerbitan tiap-tiap obligasi valas tersebut. Pasalnya, ia bilang, pemerintah masih terus menyesuaikan rencan itu dengan kondisi pasar dan perekonomian. "Nanti lihat saja hasilnya karena kan fleksibel," katanya.
(lav/bir)