Ketiga obligasi yang dimaksud antara lain, surat utang syariah (sukuk) global, obligasi dengan dua mata uang asing (dual currency) berdenominasi dolar AS dan Euro, dan obligasi berdenominasi yen Jepang (samurai bond).
Direktur Surat Utang Negara (SUN) Direktorat Jenderal Pengelolaan, Pembiayaan, dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu) Loto Srinaita Ginting mengatakan, waktu penerbitan sengaja dipilih pada paruh pertama tahun ini lantaran pemerintah ingin mengantisipasi dampak dari kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve pada tahun ini.
"Semuanya tahu ada rencana Fed Fund Rate tiga kali dan semua melihatnya akan ada kenaikan tingkat bunga karena pertumbuhan ekonomi global relatif membaik. Kemudian, ada rencana pengurangan balance sheet dari The Fed," ujar Loto di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (12/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai estimasi awal, Loto mengatakan, pemerintah memasang target penerbitan obligasi valas sekitar 17-20 persen dari total kebutuhan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp856 triliun pada tahun ini.
Artinya, penerbitan obligasi valas sekitar Rp145,52-171,2 triliun pada tahun ini. Sebab, pemerintah tak berencana menerbitkan lagi obligasi valas pada paruh kedua tahun ini.
Kendati begitu, Loto belum ingin merinci estimasi target penerbitan tiap-tiap obligasi valas tersebut. Pasalnya, ia bilang, pemerintah masih terus menyesuaikan rencan itu dengan kondisi pasar dan perekonomian. "Nanti lihat saja hasilnya karena kan fleksibel," katanya.