Awal Tahun, LPS Tahan Suku Bunga Penjaminan Simpanan

Yuli Yanna Fauzie , CNN Indonesia | Jumat, 12/01/2018 19:29 WIB
Awal Tahun, LPS Tahan Suku Bunga Penjaminan Simpanan Lembaga Penjamin Simpanan memutuskan menahan tingkat bunga penjaminan untuk simpanan rupiah di bank umum 5,75 persen, dan Bank Perkreditan Rakyat 8,25 persen. (CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memutuskan menahan tingkat suku bunga penjaminan untuk simpanan berdenominasi rupiah di bank umum sebesar 5,75 persen dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) 8,25 persen.

Begitu pula suku bunga penjaminan untuk simpanan dalam valuta asing (valas) di bank umum sebesar 0,75 persen. Tingkat suku bunga penjaminan ini berlaku untuk periode 16 Januari 2018 hingga 14 Mei 2018.

Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah menngatakan, langkah penahanan suku bunga diambil lantaran LPS mempertimbangkan tiga indikator, yaitu kondisi perekonomian, kondisi perbankan, hingga kondisi likuiditas bank.

Dari sisi perekonomian, LPS menilai pertumbuhan ekonomi tetap akan finis di kisaran lima persen secara tahunan (year on year/yoy) pada tahun lalu dan berlanjut pada kisaran yang sama pada tahun ini. Sedangkan dari sisi inflasi terlihat cukup rendah dengan finis di angka 3,61 persen (yoy).

"Situasi ekonomi masih tetap menggembirakan, meski ada perlambatan. Tapi kami tidak melihat ada hal yang mengganggu," ujar Halim dalam konferensi pers di kantor LPS, Jumat (12/1).

Dari sisi perbankan, Halim melihat, beberapa indikator kinerja perbankan cukup baik. Misalnya, tingkat permodalan (Capital Adequacy Ratio/CAR) di kisaran 22 persen dan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) di kisaran

"Baik dari sisi NPL dan kredit yang direstrukturisasi cenderung membaik. Dengan demikian, kami lihat kinerja perbankandi tahun lalu dan risiko yang dihadapi relatif terkendali," terangnya.

Dari sisi likuiditas perbankan, LPS mencatat, LDR bank mengalami kenaikan dari 89,1 persen pada Oktober 2017 menjadi 89,35 persen pada November 2017. Lalu, Dana Pihak Ketiga (DPK) melambat dari 10,92 persen menjadi 9,86 persen pada November 2017. Begitu pula dengan pertumbuhan kredit yang melambat dari 8,26 persen menjadi 7,68 persen pada November 2017.

"Memang laju DPK tidak secepat 2016, tapi pertumbuhan DPK yang lambat ini karena pertumbuhan kredit yang relatif lambat juga," imbuhnya.

Sementara dari sisi perekonomian dan kebijakan global, Halim bilang, kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve dilihatnya tak memberikan kekhawatiran kepada kondisi ekonomi dan perbankan dalam negeri.

"Kenaikan Fed Fund Rate pada Desember kemarin memang akan jadi faktor pendorong arus modal keluar, tapi di sisi lain, kebijakan pemerintah dan pertumbuhan kredit yang rendah itu, akan mengurangi risiko ke likuiditas," pungkasnya. (lav/lav)