Direktur Keuangan Arief Budiman menjelaskan, target laba bersih ini berasal dari asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar US$48 per barel.
"Kalau ICP bergerak-gerak ya kami harus hitung lagi. Tahun ini sebetulnya asumsinya tergantung asumsi harga," ucap Arief, Kamis (18/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi kalau kondisi saat ini ICP sudah sebesar US$65 per barel," tutur Arief.
Kendati demikian, Arief enggan berspekulasi jika target laba bersih tak tercapai karena harga minyak yang semakin tinggi.
Seperti diketahui, perusahaan pelat merah tersebut membukukan penurunan laba bersih pada kuartal III 2017 menjadi US$1,99 miliar atau sekitar Rp25,27 triliun bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016 sebesar US$2,83 miliar atau sekitar Rp37,64 triliun.
Penurunan ini disebabkan oleh harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang stagnan meski ICP terus merangkak sepanjang tahun lalu. Direktur Utama Pertamina, Elia Massa Manik mengatakan, rata-rata ICP sembilan bulan pertama tahun 2016 sebesar US$37,88 miliar.
"Rata rata sembilan bulan di tahun 2017 naik 30 persen," terang Elia.
Menurutnya, jika harga BBM dapat disesuaikan dengan ICP tahun 2017, maka perusahaan berpotensi meraup laba bersih pada kuartal III 2017 sebesar US$3,05 miliar atau sekitar Rp40,56 triliun. (agi)