Tahun 2013 lalu, industri kecil dan mikro sempat tumbuh 7,51 persen, kemudian menurun pada 2015 sebesar 5,71 persen, dan kembali naik kendati tipis pada 2016 sebesar 5,78 persen.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, laju pertumbuhan industri mikro dan kecil terus menurun secara kuartalan sepajang tahun 2017. Di kuartal I, pertumbuhan industri kecil dan mikro ada di angka 2,44 persen. Namun di triwulan akhir, pertumbuhan ini justru mencatat angka negatif 0,21 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Suhariyanto, ini disebabkan karena masa panen tembakau yang tahun lalu tidak menentu, sehingga produksi industri kecil dan mikro lunglai 30 persen. Adapun, awan hitam bagi industri kecil dan mikro ini melanda tiga provinsi, yakni Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barata, dan Jawa Tengah.
Meski demikian, hal ini dianggap kurang mumpuni, mengingat industri besar nasional masih bergantung dengan industri makanan. Artinya, jika industri makanan goyah, maka pertumbuhan industri besar dan sedang juga bisa ikut bergejolak.
“Karena kontribusinya cukup besar, maka kunci utamanya ya memang industri makanan,” papar dia. (agi)