Ekspor RI ke Israel Moncer Meski Tak Ada Hubungan Diplomatik

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Jumat, 15/12/2017 14:13 WIB
Ekspor RI ke Israel Moncer Meski Tak Ada Hubungan Diplomatik Pertumbuhan ekspor RI ke Israel mencapai 16,17 persen pada Januari-November atau lebih tinggi ketimbang ekspor RI ke Brazil, Turki, dan Mesir. (CNN Indonesia/Djonet Sugiarto).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, pangsa pasar ekspor nonmigas Indonesia mulai mengurangi ketergantungannya dari dominasi China. Beberapa negara baru yang kini menjalin hubungan dagang intensif dengan Indonesia mulai menunjukkan gigi, seperti Turki dan Brazil.

Tak terkecuali dengan Israel yang notabene tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia. Ekspor Indonesia ke Israel tercatat sebesar US$24,18 juta pada Januari - November atau naik 16,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan ekspor Indonesia ke Israel bahkan lebih tinggi ketimbang Brazil, Turki, Mesir, dan Afrika Selatan. Walaupun, secara nilai, ekspor Indonesia ke Israel masih dibawah dari negara-negara tersebut di atas.


Adapun, komoditas utama ekspor Indonesia ke Israel, yakni lemak dan minyak hewan/nabati, kendaraan dan bagiannya, serta alas kaki.

Meski mencatat pertumbuhan yang prima, Deputi bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti bilang, nilai ekspor ke Israel masih belum signifikan dibandingkan negara-negara lainnya. Toh, persentasenya hanya 0,79 persen dari total ekspor non-migas Indonesia.

Sehingga, jika suatu saat Indonesia bermasalah dengan Israel sebagai dampak kejadian geopolitik saat ini, maka hal itu tak akan mengguncang perdagangan Indonesia. “Mesti dilihat share (porsi) perdagangan Israel seberapa besar, baru bisa lihat dampaknya,” tutur dia, Jumat (15/12).

Sementara itu, jika dibandingkan dengan Turki, Indonesia mencatat ekspor nonmigas sekitar US$1,07 miliar atau tumbuh 15,75 persen. Sementara, dengan Brazil, ekspor Indonesia tembus US$638,8 juta atau meningkat 11,2 persen.

“Sebagian besar ekspor ke Brazil ini dalam bentuk lemak dan hewan nabati, serta karet,” ujar Kepala BPS Suhariyanto.

Kendati demikian, ekspor nonmigas Indonesia ke China masih membukukan kenaikan. Secara nilai, peningkatannya dari US$36,6 miliar ke US$40,99 miliar Pada Januari-November. Namun, secara persentase, angkanya turun dari 30,63 persen menjadi hanya 29,35 persen terhadap total ekspor nonmigas.

Suhariyanto menyebut, kondisi ini merupakan bukti bahwa Indonesia sudah bisa melakukan diversifikasi pasar ekspor. Apalagi, menurut dia, pangsa pasar ekspor Indonesia tidak hanya turun terhadap China, namun juga tujuan utama ekspor lain, seperti Amerika Serikat dan Jepang.

“Ekspor Indonesia ke Jepang antara Januari hingga November memiliki persentase sebesar 9,47 persen dari total ekspor atau menurun dibanding tahun lalu 10,01 persen. Begitu pun AS, di mana persentasenya juga turun dari 36,37 persen ke angka 36,24 persen. Ekspor ini bergerak ke pasar-pasar baru, namun angkanya belum signifikan,” imbuhnya. (bir)