Induk Sevel Masih Tunggu Uang Jaminan Kontrak Bayar Pesangon

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Rabu, 07/02/2018 14:28 WIB
Induk Sevel Masih Tunggu Uang Jaminan Kontrak Bayar Pesangon Induk usaha 7-Eleven (Sevel) masih menunggu uang jaminan kontrak dari 7-Eleven pusat sebesar US$5 juta guna membayar pesangon eks karyawan. (CNN Indonesia/Giras Pasopati)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Modern Internasional Tbk (MDRN) masih menunggu uang jaminan kontrak (security deposit) dari 7-Eleven pusat sebesar US$5 juta atau sekitar Rp67,5 miliar (kurs Rp13.500 per dolar AS) untuk membayar uang pesangon kepada eks karyawan 7-Eleven.

Direktur Modern Internasional Johannis mengatakan, perusahaan telah mengikuti perintah 7-Eleven pusat untuk mencabut seluruh merek bertuliskan 7-Eleven di beberapa gerai yang belum selesai dibersihkan. Namun, perusahaan memang belum melakukan uninstall software hingga saat ini.

"7-Eleven pusat meminta agar software yang masih terhubung diminta uninstall. Itu perlu waktu lama," ucap Johannis, Rabu (7/2).


Ia memperkirakan, pihaknya masih membutuhkan waktu sekitar dua minggu hingga satu bulan untuk melakukan hal tersebut. Setelah itu, uang jaminan baru bisa cair dan perusahaan akan langsung membayar seluruh pesangon eks karyawan 7-Eleven.

"Untuk nilai pasti pesangon, saya tidak hafal," jelas Johannis.


Kendati demikian, Johannis memastikan pesangon bisa dilunasi sebelum akhir tahun 2018. Saat ini, menurut Johannis, pihaknya telah membayar lunas gaji, sisa Tunjangan Hari Raya (THR), tunjangan transportasi, dan BPJS Ketenagakerjaan.

Sebelumnya, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) selaku kuasa hukum dari eks karyawan 7-Eleven, Abdullah Sani mengungkapkan, total pesangon yang perlu dibayarkan perusahaan lebih dari Rp20 miliar untuk 279 orang.

Tidak Jadi Rambah Bisnis Peternakan

Sementara itu, Johannis menyebut perusahaan membatalkan niatnya untuk masuk dalam bisnis peternakan sapi perah dan pengolahan susu. Hal ini disebabkan, infrastruktur perusahaan yang rencananya akan diakuisisi belum cukup memiliki infrastruktur.

"Jadi belum sepenuhnya siap untuk langsung produksi," ucap Johannis.


Awalnya, perusahaan berencana mengakuisisi PT Nusantara Agri Sejati sebagai bentuk restrukturisasi perusahaan. Namun, Johannis menyatakan, akuisisi tersebut sebenarnya tidak secara otomatis membuat kinerja perusahaan membaik tahun ini.

Untuk itu, perusahaan memutuskan untuk fokus pada bisnis mesin fotokopi dan percetakan melalui anak usahanya, PT Modern Data Solusi Digital bermerek Ricoh. Dengan kata lain, bisnis itu akan menjadi penggerak utama perusahaan secara konsolidasi dari sebelumnya yang bergantung pada bisnis ritel.

"Kontribusinya sekarang masih kecil sekitar 10 persen," imbuhnya.

Johannis melanjutkan, perusahaan telah mendapatkan restu pemegang saham untuk menjual aset lebih dari 50 persen sebagai bentuk restrukturisasi. Namun, sejauh ini belum ada pembeli yang serius membeli seluruh aset tersebut. (agi/agi)