"Data itu yang penting di lapangan, bukan data versi siapa," kata Edhy Prabowo seperti dikutip dari Antara, Kamis (8/2).
Pada era teknologi canggih saat ini, Menurut Edhy, perolehan data juga bisa menggunakan sistem informasi geografis yang bersifat 'real time' (berlangsung saat ini).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut, lanjutnya, bakal mengatasi permasalahan kekurangan bahan pangan hingga harus melakukan aksi impor dan merugikan petani nusantara.
Dia juga menyarankan pemerintah menangani persoalan pangan dengan mengalokasikan anggaran dana yang memadai untuk Badan Urusan Logistik (Bulog) selaku penanggungjawab pengadaan.
"Ketidakakuratan data pangan sudah sering disuarakan sebagai salah satu penyebab permasalahan penanganan pangan," kata Hizkia.
Menurut dia, hal itu bisa disebabkan parameter pengambilan sampling yang sudah ketinggalan zaman, ketidakcermatan enumerator (pengambil data) dan juga ketidakakuratan jawaban narasumber. Selain itu, ujar dia, panjangnya distribusi data dari tingkat desa hingga ke pusat juga berpotensi menimbulkan ketidakakuratan.
Hizkia berpendapat, perbedaan data komoditas pangan antara satu institusi dengan institusi lain sudah sering terjadi.
"Namun masalah ini tidak juga menemukan solusi dan malah berulang lagi. Permasalahan ini kembali dibahas seiring dengan kebijakan impor yang diambil pemerintah terhadap suatu komoditas," katanya.
Padahal, sebagai dasar pengambilan kebijakan, data pangan yang bersumber dari satu pihak dan akurat juga penting untuk mengukur produktivitas pangan, mengidentifikasi daerah-daerah penghasil komoditas pangan dan juga mengetahui kondisi petani. (lav/antara)