ANALISIS

Menyoal Minimnya Jaringan Gas Rumah Tangga di Indonesia

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 22/02/2018 13:12 WIB
Menyoal Minimnya Jaringan Gas Rumah Tangga di Indonesia Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akumulasi jargas hanya mencapai 383,06 ribu SR hingga akhir tahun lalu. (ANTARA FOTO/Moch Asim)
Jakarta, CNN Indonesia -- Energi merupakan salah satu kebutuhan yang krusial. Salah satu bentuk energi yang lazim digunakan oleh masyarakat adalah gas bumi.

Di Indonesia, kebutuhan gas rumah tangga biasanya berasal dari gas bumi yang telah diolah ke bentuk liquified petroleus gas yang disimpan dalam tabung atau LPG tabung.

Namun, pemenuhan kebutuhan gas dalam rumah tangga sebenarnya juga bisa dipasok melalui jaringan pipa gas (jargas), seperti yang banyak dilakukan di negara maju.


Direktur Eksekutif ReforMiner Komaidi Notonegoro mengungkapkan penyaluran gas bumi menggunakan pipa sebenarnya lebih efisien dibandingkan menggunakan gas tabung.

Dalam hal ini, penyedia gas hanya perlu berinvestasi dalam menyediakan saluran pipa di awal. Produsen juga tidak perlu menyediakan unit pengilangan. Konsumen tinggal membayar gas sesuai penggunaan tanpa perlu membeli tabung, layaknya berlangganan air bersih dan listrik.


Dari sisi biaya, harga gas yang dijual juga relatif lebih murah dibandingkan harga jual gas tabung.

Sebagai gambaran, sesuai Surat Keputusan BPH Migas Nomor 107/RTPK/BPH Migas/Kom/VIII/2007 tertanggal 21 Agustus 2007, harga gas golongan Rumah Susun, Rumah Sederhana, Rumah Sangat Sederhana, dan sejenisnya (RT-1) yang disalurkan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk lewat jargas untuk Wilayah Jaringan Distribusi (WJD) Jakarta adalah Rp2.618 per meter kubik dan Rumah Menengah, Rumah Mewah, Apartemen, dan sejenisnya (RT-2) Rp3.141 per meter kubik.

Sementara, harga jual LPG tabung tanpa subsidi ada di kisaran Rp8.000 hingga Rp9.000 per kg.

"Kalau pakai jargas, untuk rumah tangga yang sering masak mungkin hanya akan habis sekitar Rp30 ribu sampai Rp40 ribu per bulan. Kalau LPG, pemakain LPG 12 kg per bulan sudah habis Rp130 ribu sampai Rp140 ribu," ujar Komaidi saat dihubungi cnnindonesia.com, Rabu (21/2).

Tak ayal, dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah aktif mendorong pembangunan jaringan pipa gas di beberapa daerah, terutama yang dekat dengan sumber gas bumi.



Menyoal Minimnya Jaringan Gas Rumah Tangga di Indonesia(ANTARA FOTO/Risky Andrianto)

Penetrasi Minim


Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), akumulasi jaringan gas bumi rumah pada tahun 2014 hanya 200 ribu sambungan rumah tangga (SR). Selang setahun, jumlahnya naik menjadi 220,36 ribu SR.

Kemudian, pada tahun 2016 melonjak menjadi 319,51 SR. Tahun lalu, akumulasi jargas telah mencapai 383,06 ribu SR atau lebih tinggi dari target 376,91 SR.

Tahun ini, Kementerian ESDM menargetkan pembangunan jargas mencapai 77.880 SR dengan menggunakan anggaran APBN 2018 sekitar Rp850 miliar. Kemudian, pemerintah juga mendorong Badan Usaha Niaga Umum Gas Bumi turut berpartisipasi.

PT Pertamina (Persero) rencananya akan membangun 2 ribu SR dan PGN 550 SR sehingga di akhir tahun total jargas bisa menembus 463,49 ribu SR.

Namun demikian, jumlah tersebut masih relatif kecil jika dibandingkan total rumah tangga di Indonesia. Data terakhir Badan Pusat Statistik, terdapat lebih dari 65 juta rumah tangga di Indonesia.


Menurut Komaidi, minimnya penetrasi jaringan gas rumah tangga di Indonesia tak lepas dari lemahnya rancangan tata kota di Indonesia. Artinya, pada waktu mendesain sebuah kota, pemerintah dahulu tak memikirkan soal pemasangan pipa gas.

Konsekuensinya, begitu kota semakin berkembang, pemasangan pipa gas menjadi semakin sulit. Karenanya, jarga dikembangkan di rumah susun, apartemen, atau kota baru yang masih memungkinkan untuk pengembangan tata kota dan wilayah.

"Di Indonesia, desain tata kotanya tidak terintegrasi sejak awal. Kalau sekarang mau membangun jargas di Sudirman [Jakarta], untuk membangun pipanya sudah ada gedung dan rumah. Padahal, jargas membutuhkan lahan untuk pemasangan infrastrukturnya," jelasnya.

Pemasangan instalasi jargas rumah tangga juga memerlukan biaya. Komaidi menyebutkan, berdasarkan diskusi terakhirnya dengan BPH Migas, biaya pemasangan instalasi awal jargas ada di kisaran Rp15 juta hingga Rp20 juta per pelanggan.

Dari sisi keamanan, lanjut Komaidi, jargas rumah tangga relatif aman. Karena, pipa yang digunakan serta pemasangannya harus memenuhi standar keamanan tertentu. Potensi ledakan bisa terjadi bila pipa yang digunakan mengalami korosi.


"Kalau kecelakaan fatal bisa terjadi di semuanya, tabung LPG juga bisa meledak," ujarnya.

Demi mendorong penetrasi jargas, terutama dari sisi pemerintah perlu menata pola bisnis jargas rumah tangga.

Selama ini, penyediaan jargas oleh badan usaha merupakan penugasan dengan harga yang ditetapkan oleh pemerintah melalui Badan Pengatur Hilir (BPH) Minyak dan Gas Bumi (Migas).

Menyoal Minimnya Jaringan Gas Rumah Tangga di Indonesia(CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)


Atur Harga


Direktur Utama PGN Jobi Triananda Hasjim mengungkapkan pihaknya tak mengambil untung dari bisnis jargas rumah tangga yang porsinya hanya sekitar 1 persen dari total penjualan gas yang dilakukan perseroan.


Jobi pun meminta agar pemerintah kembali melakukan penyesuaian harga dengan mengikuti praktik penentuan harga BBM di mana harganya sama untuk satu wilayah. Hal ini juga seiring dengan maraknya pembangunan jargas rumah tangga.

"Kami iri dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang bisa satu harga, kami berharap, semakin tingginya [pembangunan], pengelolaan jargas maka bisa lebih optimal dan ekonomis," ujar Jobi beberapa waktu lalu.

Saat ini, besaran harga gas jargas rumah tangga berbeda antar wilayah. Misalnya, di wilayah Sidoarjo-Mojokerto, BPH Migas menetapkan harga gas bumi untuk rumah susun, rumah sederhana, rumah sangat sederhana, dan sejenisnya (golongan RT-I) sebesar Rp2.496 per meter kubik untuk gas yang disalurkan oleh PGN. Harga ini ditetapkan sejak tahun 2007 silam.

Sementara, harga gas bumi yang disalurkan oleh anak usaha Pertamina, PT Pertagas Niaga, di Mojokerto untuk golongan rumah tangga yang sama ditetapkan sebesar Rp4.350 per meter kubik.

Pemerintah melalui Badan Pengatur Hilir (BPH) Minyak dan Gas Bumi (Migas) telah mengkaji untuk menyeragamkan harga jual gas bumi jargas rumah tangga di kota-kota yang berdekatan.


"Misalnya, harga jargas di kota-kota di Jawa Timur, harganya sama," ujar Anggota Komite BPH Migas Jugi Prajogio saat ditemui beberapa waktu lalu.

Jugi mengungkapkan nantinya harga yang ditetapkan akan memberikan ruang bagi badan usaha untuk mendapatkan margin keuntungan. Diharapkan, dengan langkah ini, keberlajutan jargas bisa terjaga mengingat pembangunan jarga tidak hanya menggantungkan pada APBN tetapi badan usaha juga tertarik untuk berperan lebih besar.

Berdasarkan kajian sementara, lanjut Jugi, harga gas bumi jargas untuk RT-1 akan dipatok berkisar Rp4.500 hingga Rp5.000 per meter kubik. Sementara untuk RT-2 atau golongan rumah Rumah Menengah, Rumah Mewah, Apartemen, dan sejenisnya akan dipatok di kisaran Rp6.000 hingga Rp6.500 per meter kubik.

Namun, Jugi meyakinkan harga jargas rumah tangga tidak akan melebihi harga jual LPG tabung nonsubsidi.

"Selama ini masyarakat memang sudah menikmati harga [jargas] terlalu murah," ujarnya. (gir/bir)