Investor Malaysia dan Timur Tengah Lirik Beli Bank Muamalat

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Rabu, 28/02/2018 16:12 WIB
Investor Malaysia dan Timur Tengah Lirik Beli Bank Muamalat Direktur Utama Bank Muamalat Achmad K. Permana menyebut, terdapat beberapa investor asing, antara lain dari Malaysia dan Timur tengah yang tertarik membeli saham Bank Muamalat. (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah investor asing telah melirik PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (BMI) usai gagalnya rencana pembelian saham perseroan oleh PT Minna Padi Investamana Sekuritas Tbk melalui penerbitan saham baru dengan HAK Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue.

"Investor banyak. Ada dari Malaysia, Timur Tengah, lokal. Alhamdulillah, banyak," ujar Direktur Utama BMI Achmad K Permana di Muamalat Tower, Rabu (28/2).

Permana mengungkapkan, hingga kini perusahaan masih menimbang-nimbang investor yang akan menyuntikkan modal tambahan ke bank syariah pertama di Indonesia ini. Investor yang ingin masuk ke Bank Muamalat, menurut dia, bisa saja nantinya membentuk konsorsium.



Sebagai catatan, per September 2017, kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) BMI tercatat 11,58 persen, menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 12,75 persen.

"Kami perlu waktu untuk itu karena baru dua minggu lalu Minna Padi menyatakan batal untuk itu (membeli saham baru pada rights issue)," ujarnya.

Tahun ini, lanjut Permana, pihaknya akan fokus menggarap pasar dari komunitas muslim, termasuk dalam hal pembiayaan. Untuk itu, penguatan modal diperlukan.


Permana berharap, injeksi modal dari investor bisa dilakukan sebelum paruh pertama tahun ini. Terkait target besarannya, Permana menyebutkan kemukinan masih akan berada di kisaran Rp4,5 triliun.

"Pada saatnya nanti, kalau sudah fix yang akan masuk, kami akan sampaikan berapa berapa sebenarnya yang kami setujui karena angka itu (Rp4,5 triliun) bisa bergerak. Bisa naik, bisa turun," ujarnya.

Selain injeksi modal langsung dari investor, untuk mendukung pembiayaan, perusahaan juga berencana menerbitkan sukuk senilai Rp1 triliun pada semester pertama tahun ini. (agi/agi)